Surabaya – Stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Jawa Timur kini menghadapi tantangan baru dari dunia digital. Informasi yang cepat viral di media sosial bisa dengan mudah memicu konflik jika tidak disikapi dengan bijak.
Kepala Bakesbangpol Jawa Timur, Eddy Supriyanto, menyebut fenomena viral sebagai “ujian” bagi persatuan masyarakat. Hal ini disampaikannya dalam FGD bertema “Dari Viral ke Konflik” yang digelar oleh Pusat Studi Kepolisian Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Polda Jatim di Sekolah Pascasarjana UNAIR.
Menurut Eddy, banyak informasi yang menyebar lebih cepat daripada fakta yang sebenarnya. Akibatnya, emosi masyarakat sering terpancing sebelum kebenaran diklarifikasi.
“Kalau tidak bijak, jempol di media sosial bisa memicu konflik nyata di masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi “filter” bagi dirinya sendiri, tidak langsung percaya atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Pasalnya, beberapa konflik yang terjadi berawal dari kesalahpahaman informasi di media sosial, seperti pesan di grup WhatsApp atau video tanpa konteks.
Selain itu, Eddy juga menekankan pentingnya menyebarkan narasi yang menyejukkan untuk menjaga suasana tetap kondusif. Kolaborasi dengan tokoh masyarakat, akademisi, dan institusi seperti UNAIR dinilai penting untuk mencegah konflik sejak dini.
“Kita harus menjaga ruang digital tetap sehat. Mulai dari diri sendiri, gunakan media sosial untuk menyebarkan hal positif, bukan memecah belah,” tegasnya.
Melalui forum ini, Eddy mengingatkan bahwa di balik kemudahan berbagi informasi, ada tanggung jawab besar untuk menjaga persatuan. Karena saat ini, keamanan masyarakat juga ditentukan oleh bagaimana kita bersikap di dunia digital.

