
WISUDAWAN TERBAIK S2 ILMU FORENSIK: JALAN PENGABDIAN GRACIA GAZALI UNTUK MEREKA YANG TAK LAGI BISA BICARA
Aroma khidmat menyelimuti Airlangga Convention Center pada Sabtu (11/4/2026).
Di tengah keriuhan prosesi Wisuda Periode 261 Universitas Airlangga (UNAIR), satu
nama mencuat sebagai simbol keteguhan dalam mengejar impian yang sempat
tertunda: Gracia Gazali.
Apoteker muda ini resmi dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik S2 Ilmu Forensik
Sekolah Pascasarjana UNAIR. Gracia berhasil menuntaskan studi magisternya
hanya dalam empat semester dengan raihan IPK nyaris sempurna, 3,97.
Keberhasilannya menjadi bagian dari sejarah 155 lulusan Sekolah Pascasarjana
yang dikukuhkan hari ini.
Hadir mendampingi Rektor UNAIR dalam prosesi tersebut, Direktur Sekolah
Pascasarjana Prof. Dr. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.
(K), FICS Kehadirannya mempertegas posisi Sekolah Pascasarjana sebagai kawah
candradimuka bagi pemimpin masa depan melalui visi *School of Collaborative
Leadership*.
Impian yang Terpendam
Bagi Gracia, gelar magister ini adalah buah dari impian lama yang sempat ia simpan
rapat saat menempuh studi S1 Farmasi. Meski sempat memilih jalur profesi
Apoteker, panggilan nuraninya terhadap dunia forensik tak pernah padam.
“Semua berubah ketika saya menemukan bahwa UNAIR memiliki program Magister
Ilmu Forensik. Tanpa pikir panjang, saya mendaftar dan ajaibnya diterima,” kenang
Gracia.
Selama studi, Gracia tidak sekadar berkutat dengan buku. Ia terjun langsung ke
lapangan melalui program magang di divisi Identifikasi (INAFIS) Polrestabes
Surabaya. Pengalaman menangani kasus nyata di lapangan bersama tim kepolisian
mengubah sudut pandangnya secara fundamental terhadap standar forensik global.
Kepemimpinan Kolaboratif dalam Sains
Semangat *School of Collaborative Leadership* yang diusung Sekolah Pascasarjana
UNAIR tercermin jelas dalam visi Gracia. Ia bercita-cita menjembatani dunia
kefarmasian dengan pembuktian kasus kriminal.
Lebih jauh, Gracia bertekad menginisiasi pembentukan Asosiasi Apoteker Forensik
Indonesia. Sebuah langkah kolaboratif agar para apoteker memiliki wadah resmi dan
standar kompetensi yang diakui dalam *scientific crime investigation*.
“Saya tidak lagi melihat forensik hanya sebagai sains, tetapi juga jalan pengabdian
untuk mengungkapkan kebenaran bagi mereka yang sudah tidak bisa berbicara
lagi,” tegasnya merujuk pada para korban kejahatan yang ia tangani.Lulusnya 155 wisudawan Sekolah Pascasarjana kali ini diharapkan menjadi energi
baru bagi kemajuan bangsa. Seperti pesan yang dibawa Gracia dalam kutipannya:
*”Impossible we do, miracle we try.”* Bahwa di tangan para pemimpin yang
kolaboratif, ketidakmungkinan hanyalah sebuah tantangan untuk menciptakan
keajaiban bagi keadilan dan kemanusiaan
