Bencana bukan takdir, tapi risiko yang bisa dikelola.

Pakar Manajemen Bencana UNAIR : Mengelola Risiko di Era “Godzilla”, Mengubah

Paradigma Bencana Kita

Oleh: Dr. Hijrah Saputra, ST., M.Sc.

(Pakar Manajemen Bencana / Akademisi Sekolah Pascasarjana Universitas

Airlangga

Fenomena iklim global tidak lagi sekadar menjadi catatan kaki dalam laporan ilmiah

para meteorolog. Hari ini, kita berhadapan dengan apa yang disebut sebagai “El

Nino Godzilla”—sebuah istilah yang menggambarkan anomali suhu permukaan laut

dengan intensitas yang sangat kuat dan menghancurkan. Di tengah ancaman ini,

masyarakat sering kali terjebak dalam rasa cemas yang pasif. Padahal, inti dari

menghadapi cuaca ekstrem bukanlah ketakutan, melainkan perombakan total pada

cara kita memandang dan mengelola risiko.

Selama berdekade-dekade, pola penanganan bencana di negeri ini cenderung

bersifat reaktif. Kita sangat cekatan dalam memberikan bantuan saat kekeringan

melanda atau ketika gagal panen terjadi. Namun, di era perubahan iklim yang

akseleratif ini, model respons darurat (*emergency response*) saja sudah tidak lagi

memadai. Kita memerlukan pergeseran paradigma yang fundamental: beralih dari

sekadar memadamkan api saat kejadian, menuju pengurangan risiko bencana

(*disaster risk reduction*) yang komprehensif.

Satu hal yang harus kita tanamkan dalam benak kolektif adalah bahwa bencana itu

bukan sekadar takdir yang harus diterima, tapi risiko yang bisa dikelola. Pernyataan

ini bukan bermaksud menafikan kuasa alam, melainkan sebuah seruan untuk

mengambil tanggung jawab manusiawi. Kunci utamanya adalah bagaimana kita

mengenali ancamannya dan mengurangi kerentanannya. Jika kita tahu El Nino akan

datang membawa kekeringan panjang, maka kerentanan kita—seperti

ketergantungan pada sumber air tunggal atau pola tanam yang tidak adaptif—harus

dikurangi sejak dini.

El Nino Godzilla bukan sekadar fenomena tunggal. Ia membawa dampak berantai

(*cascading effects*) yang merambat ke berbagai sektor. Kekeringan di satu wilayah

bukan hanya masalah ketersediaan air minum, melainkan hulu dari krisis ketahanan

pangan nasional dan instabilitas ekonomi. Ketika lahan pertanian retak dan waduk

menyusut, harga pangan melonjak, dan kelompok masyarakat rentan menjadi yang

paling pertama terhempas. Oleh karena itu, strategi bertahan hidup kita tidak bisa

lagi dilakukan dengan cara-cara biasa.

El Nino Godzilla hadir bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai pengingat bahwa

alam sedang tidak baik-baik saja dan kita butuh strategi bertahan yang luar biasa,

bukan sekadar bisnis seperti biasa (*business as usual*). Kita tidak bisa lagi

menggunakan instrumen kebijakan lama untuk menghadapi ancaman baru yang

skalanya jauh lebih besar. Strategi bertahan ini harus melibatkan pemanfaatan data

saintifik yang akurat, integrasi teknologi informasi untuk sistem peringatan dini,hingga penghormatan terhadap kearifan lokal yang telah lama mengajarkan kita cara

membaca tanda-tanda alam.

Lalu, di mana titik awal ketangguhan itu dibangun? Sering kali kita menunjuk hidung

pemerintah sebagai penanggung jawab tunggal. Namun, manajemen bencana yang

paling efektif sebenarnya dimulai dari unit terkecil masyarakat, yakni meja makan

keluarga. Ketangguhan sejati lahir ketika setiap rumah tangga memiliki rencana

darurat, memahami risiko di lingkungan sekitarnya, dan memiliki kesadaran kolektif

untuk menjaga ekosistem. Meja makan adalah tempat di mana edukasi mengenai

penghematan air dan adaptasi pola konsumsi dimulai.

Namun, kesadaran individu saja tidak cukup tanpa payung kolaborasi yang kuat. Di

sinilah pentingnya sinergi Pentahelix. Penanganan cuaca ekstrem harus menjadi

kerja gotong royong antara akademisi yang menyuplai data, pemerintah yang

menyusun kebijakan, sektor swasta yang mendukung sumber daya, komunitas yang

menjadi ujung tombak di lapangan, serta media yang menyebarkan informasi akurat.

Tanpa kolaborasi ini, kita hanya akan bergerak secara sporadis dan tidak efektif.

Sebagai bangsa yang hidup di wilayah “supermarket bencana”, kita seharusnya

menjadi yang terdepan dalam inovasi mitigasi. Ketangguhan sebuah bangsa dalam

menghadapi bencana diukur dari seberapa cepat mereka belajar dari kejadian masa

lalu untuk tidak mengulang kesalahan yang sama di masa depan. Kita telah berkali-

kali dihantam oleh siklus El Nino, namun apakah infrastruktur air dan sistem pangan

kita sudah lebih tangguh dibandingkan satu dekade lalu? Pertanyaan ini harus

dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar dokumen perencanaan.

Sebagai penutup, mari kita jadikan ancaman El Nino Godzilla ini sebagai momentum

transformasi. Cuaca mungkin semakin ekstrem dan sulit diprediksi, tetapi kapasitas

manusia untuk beradaptasi dan berinovasi adalah tanpa batas. Dengan mengenali

risiko, memperkuat kolaborasi, dan memulai kesiapsiagaan dari lingkup keluarga,

kita tidak hanya akan bertahan melewati musim yang membara, tetapi juga

membangun fondasi bangsa yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi generasi

mendatang.

**Sumber Referensi:**

*Materi dipaparkan dalam Airlangga Forum Edisi 267: “PANCAROBA DATANG,

ELNINO GODZILLA MENJELANG” (Jumat, 10 April 2026).*

Tayangan lengkap: https://www.youtube.com/live/8odafO9rtT