Sampah Sungai Surabaya 40 Ton per hari, Dominasi Plastik, Pakar Hukum Lingkungan UNAIR Dorong Tanggung Jawab Produser Berkemasan  

Berita UNAIR Pascasarjana, Rabu 08 Maret 2023 – Masalah sampah di sungai masih menjadi pekerjaan rumah Pemkot Surabaya hingga saat ini. Apalagi di musim hujan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mencatat pada saat musim hujan sampah di sungai Surabaya mencapai 40 ton per hari.dengan didominasi plastic,Sampah di sungai yang ditarik dari saringan alat mechanical screen dari semua pompa air yang ada di sungai Surabaya normanya sebanyak 25 ton per hari di musim kemarau. Tetapi di musim hujan sampah itu justru meningkat hampir dua kali lipat. 
 
Tak bisa dimungkiri dari sekian banyaknya sampah di sungai Surabaya, sampah plastik masih menjadi salah satu sampah terbanyak. Oleh karena itu DLH Surabaya dibawah pimpinan Agus Hebi Djuniantoro juga memiliki langkah-langkah untuk mengurangi sampah plastic dengan adanya Perwali nomor 16 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik dengan gagang. Selain itu, bank sampah juga digencarkan di Surabaya. 

Bank sampah berfungsi untuk menampung sampah plastik dari masyarakat. DLH Surabaya juga memperluas wilayah 3R (Reduce, Reuse, Recyle) yang diharapkan bisa mengurangi sampah hingga 4 ton per harinya. 

Suparto Wijoyo, Pakar Hukum Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) yang juga merupakan wakil direktur bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Digitalisasi dan Internasionalisasi, mengatakan saat di program Optimis Jatim Bangkit di JTV senin 7 maret 2023 lalu, bahwa dirinya selalu mendorong tanggung jawab dan peran serta produsen yang menggunakan kemasan plastik, terhadap limbah yang dihasilkan dan ini sudah ada regulasinya di undang-undang pengelolaan sampah pasal 14 dan 15. 

Hadirnya “Extended Producer Responsibilty” tentu akan sangat membantu dalam hal tanggung jawab para produsen yang menggunakan kemasan, dirinya menambahkan hal tersebut diatas akan semakin kuat gerakannya apabila ada regulasi terkait hadirnya “insentif” dicontohkan di beberapa Negara di eropa, seperti air minum dalam kemasan bila masyarakat membawa botol bekas pakainya untuk membeli produk yang sama, maka masyarakat berhak dengan harga yang lebih murah, “bukankah kita beli isinya bukan kemasannya”, bila hal ini bisa dilakukan tentu gerakan pengurangan limbah plastic akan semakin terasa karena konsumen merasakan dampak ekonominya. 

Ditambahkan dirinya berharap kepada kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2023 memulai melakukan monitor dan penghitungan terhadap kemampuan pohon-pohon yang berdiri di Kota Surabaya atau kabupaten kota lainnya dalam menyerap CO2 yang ada di wilayahnya, lalu dengan perhitungan tersebut kabupaten dan kota berhak mendapat insentif,  ini adalah implementasi dari pasar karbon dan bila ini terjadi, maka kabupaten dan kota seluruh Indonesia akan serius terhadap terjaganya lingkungan hidup.  

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/