PODCAST MOZAIK : NILAI TUKAR RUPIAH BOLEH MELEMAH, TAPI TETAP HARUS OPTIMIS BERINVESTASI DI DALAM NEGERI

MOZAIK : Prospek Ekonomi Menuju 79 Tahun Kemerdekaan RI

Berita UNAIR Pascasarjana, Jumat, 05 Mei 2024  –  Jumat, 21/06/2024, Gairah Kemerdekaan ke-79 tahun dan suasana Idul Adha dimana menurut data pada tahun ini ada 2,67 juta qurban, dengan akumulasi keuangan sebesar 2,8 triliun dan dibumbui dengan pengaruh dari geopolitik, ada hal yang perlu mendapat perhatian yaitu menguatnya dolar danmelemahnya rupiah, mungkin untuk saat ini tidak begitu terasa karena kita sedang disibukkan dengan agenda-agenda besar seperti pilpres dan pilkada, akan tetapi bagaimana seharusnya kita menyikapinya ?, hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Suparto WIjoyo, SH., M.Hum. Wakil Direktur 3 Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga di program acara Mozaik yang merupakan hasil kerjasama antara Sekolah Pascasarjana UNAIR dengan Suara Muslim Radio Network dan MUI Jawa Timur.

Prof. Dr. Rudi Purwono, SE., M.SE. selaku narasumber dan Wakil Direktur 2 Sekolah Pascasarjana UNAIR menjelaskan, “ dalam kurun waktu 1 bulan yang menjadi perhatian khusus adalah di sektor keuangan, yaitu nilai tukar mata uang, rupiah khususnya dimana beberapa waktu ini mengalami depresiasi yang sangat besar.” Dirinya menambahkan “kenapa dolar terus menguat, karena hingga saat semua menunggu bank sentra Amerika Serikat untuk menurunkan suku bunganya, hal ini dilihat sejak 2022-2023 bank sentral amerika selalu menaikkan suku bunga, karena didasarkan pada geopolitik dunia yang hal ini juga berdampak pada supply chain.”

“Pada awal tahun 2024, para pelaku sektor ekonomi berharap bank sentral akan menurunkan suku bunganya akan tetapi ternyata tidak terjadi, hal ini didasarkan pada konflik baru yang terjadi di timur tengah dan jika kondisi suku bunga tidak turun, maka pemilik modal akan menyimpan uangnya dalam bentuk dolar, hal ini yang membuat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar terus melemah.” Ungkap guru besar Ekonomi Universitas Airlangga ini.

Hal tersebut diataslah yang membuat Presiden memanggil sejumlah menteri yang bersentuhan dengan sektor keuangan ke Istana, ketika ditanya apa dampak yang paling mudah terasa saat dolar terus menguat, Prof. Rudi menjawab “konsekuensinya ada 2 yang pertama hutang luar negeri tetap akan tetapi secara nilai rupiah akan bertambah karena menguatnya dolar, yang kedua, bahan baku industri kita sebanyak 80% masih impor sehingga masih bergantung kepada dolar, kalau depresiasi ini terus berlangsung maka ongkos produksi akan meningkat dan berdampak pada harga jual dan hal ini menyebabkan inflasi.”

Dalam kesempatan kali ini ada beberapa pertanyaan dari pendengar, yang menanyakan tentang bagaimana mengatasi inflasi, termasuk dalam menghadapi inflasi, bila memiliki kelebihan dana, maka apa yang harus dilakukan agar bisa aman dalam berinvestasi, dirupakan uang dan dirupakan emas. 

Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. Rudi menjawab, “untuk investasi di tengah inflasi, sebaiknya digunakan untuk aktivitas ekonomi riil, terutama disektor makanan karena pasarnya masih sangat tinggi, dengan demikian investasi kita tidak akan menambah parah kondisi keuangan dalam negeri karena masih berputar di Indonesia justru menumbuhkan ekonomi Indonesia.” Jawabnya.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)