Pesantren Menanamkan Karakter, Indonesia Menuju Emas 2045

Doktor Pertama Hukum dan Pembangunan UNAIR, Nyai Hj. Lelly Lailiyah Raih Cumlaude Lewat Konsep Qonun Asasi untuk Indonesia Emas 2045

Suasana Ruang Ternate ASEEC Tower Universitas Airlangga (UNAIR), Selasa (30/6/2026), dipenuhi nuansa akademik sekaligus kebanggaan. Pada hari itu, Hj. Lelly Lailiyah Novianti, Dra., M.M., resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Doktor Terbuka Program Studi Doktor Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana UNAIR.

Perempuan yang akrab disapa Bu Nyai Lelly tersebut berhasil lulus dengan predikat Cumlaude, memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97, serta menyelesaikan studi dalam waktu 2 tahun 10 bulan. Pencapaian ini sekaligus mencatatkan sejarah baru karena menjadikannya doktor pertama yang dilahirkan oleh Program Studi Doktor Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana UNAIR.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dapat berjalan selaras dengan pencapaian akademik di jenjang tertinggi. Di tengah kesibukan mendampingi santri dan aktivitas organisasi, Bu Nyai Lelly tetap mampu menghasilkan riset yang memberikan kontribusi bagi pengembangan hukum, pendidikan, dan sumber daya manusia Indonesia.

Qonun Asasi sebagai Fondasi SDM Indonesia Emas 2045

Dalam disertasinya yang berjudul Nilai-Nilai Qonun Asasi Nahdlatul Ulama dalam Politik Hukum Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045, Lelly menawarkan pendekatan baru dalam pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai pesantren.

Menurutnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang unggul secara akademik dan memiliki kompetensi teknis, tetapi juga generasi yang berintegritas, moderat, berkarakter, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

“Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, moderasi beragama, jiwa kepemimpinan, dan kepedulian sosial,” ungkap Lelly.

Sebagai solusi, ia mengembangkan model TRI VeHTI, sebuah kerangka pengembangan karakter yang mengintegrasikan 22 nilai Qonun Asasi Nahdlatul Ulama ke dalam tiga dimensi utama, yaitu:

  • Dimensi Keagamaan, meliputi nilai tauhid, kejujuran, integritas, keikhlasan, kesabaran, keberanian, toleransi, moderasi, akhlak, adab, dan etika.
  • Dimensi Pendidikan, yang menekankan keilmuan, profesionalisme, inklusivitas, pencarian kebenaran, dan semangat dakwah.
  • Dimensi Kebangsaan, yang mencakup kepemimpinan, demokrasi, kerja sama, musyawarah, persaudaraan, kekeluargaan, serta keadilan sosial.


Pesantren sebagai Laboratorium Pendidikan Karakter

Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah bahwa pembentukan karakter santri tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Justru, nilai-nilai kehidupan lebih kuat terinternalisasi melalui budaya pesantren yang dijalani setiap hari.

Keteladanan para kiai, kehidupan di asrama, organisasi santri, budaya gotong royong, hingga pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang belajar yang membentuk karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Menurut Lelly, pembelajaran formal berfungsi sebagai penguat, sedangkan pengalaman hidup sehari-hari di lingkungan pesantren menjadi faktor utama dalam membangun karakter.

Ia berharap model TRI VeHTI dapat diimplementasikan secara lebih luas, tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga pada berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.

“Saya berharap nilai-nilai Qonun Asasi dapat diterapkan tidak hanya di pesantren, tetapi juga di berbagai lembaga pendidikan karena nilai-nilainya bersifat universal dan relevan untuk membangun karakter bangsa,” ujarnya.

Dihadiri Tokoh Nasional

Sidang doktor terbuka tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh nasional yang memberikan apresiasi atas keberhasilan Bu Nyai Lelly.

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Menteri Haji dan Umrah RI, Dr. KH. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, M.Si., Menteri Sosial RI Drs. H. Saifullah Yusuf, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si., Menteri PAN-RB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, S.Pd., S.S., M.Si., serta Wakil Rais Syuriah PBNU Dr. (HC) Drs. KH. Mohammad Hasib Wahab Chasbullah.

Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai pesantren sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Menguatkan Karakter Bangsa dari Pesantren

Keberhasilan Dr. Hj. Lelly Lailiyah Novianti meraih gelar doktor dengan predikat Cumlaude menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pembangunan karakter bangsa.

Melalui disertasinya, ia menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan pendidikan ke dalam pembangunan sumber daya manusia. Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

🔎 Pelajari lebih lanjut tentang program kami di:

https://pasca.unair.ac.id