Opini Prof. Badri Munir Sukoco: Atensi Bangsa dan Kemajuannya (Harian Kompas, 11 Nov 2022)

Atensi Bangsa dan Kemajuannya

Badri Munir Sukoco
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Airlangga

https://pasca.unair.ac.id/badri-sukoco

Harian Kompas – 11 November 2022
https://www.kompas.id/baca/opini/2022/11/07/atensi-bangsa-dan-kemajuannya

Dinamika global saat ini relatif tinggi. Krisis pangan dan energi, serangan Rusia pada Ukraina, hingga ketegangan Amerika dan Cina. Beragamnya topik yang menjadi atensi global tersebut, pernah disatukan oleh pandemi Covid-19. Tidak hanya pemimpin negara, politisi, pengusaha, akademisi, bahkan masyarakat global mencermati perkembangannya. Baik terkait jumlah yang terinfeksi, kematian yang menyertainya, inovasi alat kesehatan, obat-obatan, hingga vaksin Covid-19.

Atensi kolektif tersebut mendorong tindakan bersama agar pandemi Covid-19 lekas tertangani dan terkelola dengan efektif. Efektifitas atensi untuk menyatukan sumberdaya guna mencapai ambisi kolektif (pandemi Covid-19 berakhir) menarik untuk dicermati. Pembelajaran tersebut saat ini mulai memudar, ketika dinamika lokal dan nasional mulai mengemuka.

Disisi lain, atensi publik Indonesia saat ini didominasi persaingan dini partai politik dengan koalisinya, figur yang akan diusung pada hajatan nasional lima tahunan, kenaikan harga BBM dan inflasi, serta menurunnya kepercayaan masyarakat pada penegak hukum. Bagaimana seharusnya atensi dikelola untuk kemajuan bangsa?

Atensi dan Banjir Informasi

Sejak internet bisa diakses publik tahun 1993, data dan informasi tentang apapun mudah dicari. Informasi yang sebelumnya didominasi oleh mainstream media (baik koran, radio, atau televisi), tergantikan oleh internet dan beragam produk turunannya. Apalagi ketika citizen journalism dan content creator bisa siapa saja, sepanjang menarik bagi publik, ledakan informasi bagi publik terjadi.

Membaiknya literasi menjadikan publik mudah memverifikasi kevalidan informasi, meskipun hoax dan buzzer masih jadi tantangan terbesarnya. Besarnya potensi pendapatan bagi content creator, baik kelas lokal atau global, menuntut viralitas yang menghasilkan reader dan viewer tinggi. Content creator layaknya kejar tayang agar isu yang dibahas masih hot. Akibatnya, konten dengan isu sama membanjiri gadget publik Indonesia dari beragam perspektif pembahasan. Namun, apakah konten yang dibuat dan menjadi atensi publik tersebut bermanfaat bagi kemajuan bangsa?

Kajian menarik dari Lorenz-Spreen dkk. (2019) di Nature Communications mengungkapkan bahwa viralitas sebuah isu membetot atensi publik, namun umur isu tersebut cenderung singkat dibandingkan sebelumnya. Ilustrasinya, tren global pada Twitter tahun 2013 bisa bertahan 17,5 jam, namun tahun 2016 menjadi 11,9 jam. Meningkatnya jumlah konten yang berebut perhatian dan publik yang FOMO (fear of missing out) menjadikan perpindahan antar isu semakin sering. Kondisi ini menjadikan content creator berstrategi untuk membahas hot issues secara bersamaan, khawatir kehilangan momen dan atensi publik beralih ke isu lain. Isu strategis bangsa besar kemungkinannya tenggelam ditengah isu populer yang menghibur masyarakat.

Hal ini juga menjadi tantangan besar bagi pemerintahan di seluruh dunia, khususnya Indonesia, bagaimana menjadikan isu-isu strategis bangsa menjadi atensi publik. Atensi yang mampu menggerakkan pikiran, waktu, dan energi anak bangsa untuk menyelesaikannya.

Atensi dan Strategi Organisasi

William Ocasio mengajukan Attention-Based View (ABV) untuk menjelaskan bahwa kinerja organisasi tergantung dari atensi yang dipilih, dimiliki, dan dikelola oleh pemimpinnya. Banyak studi menunjukkan bahwa atensi yang dipilih pemimpin organisasi akan menentukan kinerja organisasi yang dipimpinnya. Organisasi yang memiliki agenda strategis dan dikomunikasikan dengan baik ke seluruh organisasinya, menjadikan organisasi lebih efektif dengan kinerja lebih baik. Atensi akan diferensiasi menjadikan semua anggota organisasi fokus pada pengembangan dan implementasi strategi tersebut. Hasilnya, kinerja organisasi lebih superior dibandingkan pesaingnya (Ocasio dan Joseph, 2018).

Dalam konteks organisasi publik, pemimpin yang memiliki atensi pada pemerataan pembangunan, akan melakukan pembangunan di daerah yang selama ini relatif tertinggal. Meskipun tidak layak secara ekonomi. Bila pemimpin memiliki atensi bahwa pendidikan akan menumbuhkan perekonomian, maka anggaran daerah dan program kerjanya akan dititikberatkan pada pengembangan SDM. Atensi jenis pertama lebih terlihat hasilnya dalam jangka pendek berupa infrastruktur yang terbangun, adapun jenis kedua membutuhkan waktu panjang untuk mendapatkan dampaknya. Intinya, atensi sebagai sumberdaya terbatas organisasi akan berimbas pada kinerja jangka pendek dan jangka panjang.

Atensi dan Kemajuan Bangsa

Korea Selatan pada awal tahun 1970-an merupakan salah satu negara termiskin di Asia, sebagaimana kesaksian Prof. Clayton M. Christensen (2019 – The Prosperity Paradox). Menjadi makmur, menyamai, bahkan melebihi Jepang yang pernah menjajahnya, merupakan ambisi kolektif bangsa Korea Selatan. Untuk mencapainya, dibutuhkan Ambisi kolektif tersebut perlu menjadi atensi semua anak bangsa. Bagi pelajar, menghabiskan waktu belajar lebih keras dan panjang dari pelajar Jepang adalah keharusan untuk memiliki prestasi yang membanggakan. Bagi dosen, menghasilkan karya ilmiah dan paten yang menjadi teknologi lebih baik dari Jepang adalah obsesi bersama. Bagi pengusaha, memiliki produk yang mengalahkan produk Jepang di pasar global adalah ambisi bisnis yang harus dicapai. Meskipun dinamika politik tinggi dengan seringnya pergantian pimpinan negara, atensi akan kemakmuran dan ambisi mengalahkan Jepang menjadikan Korea Selatan seperti sekarang.

Dibutuhkan hanya 14 tahun (1977 – 1990) bagi Korea Selatan menjadi negara maju hingga sekarang. Jepang dan Singapura membutuhkan 12 tahun untuk keluar dari middle income trap (MIT). Adapun Malaysia sedang berjuang keluar dari MIT, meskipun memulainya sejak tahun 1977 baru mencapai $11,371 tahun lalu. Indonesia baru mencapai $4,350, sedangkan China telah mencapai US$ 12,539 (hampir melewati minimal threshold negara maju versi Bank Dunia. Padahal awal tahun 2000-an bersama Indonesia baru memiliki GDP per kapita diatas US$1,000. Prof. Keun Lee (2019) menyampaikan negara bisa keluar dari MIT dan menjadi maju karena pendidikan tinggi yang berkualitas dan meningkatnya kapabilitas berinovasi bangsanya. Atensi akan pendidikan tinggi dan kapabilitas inovasi mengantarkan negara keluar dari MIT, adapun yang atensinya berubah-ubah tentu sebaliknya.

Rekomendasi

Menjadi negara maju adalah ambisi kolektif bangsa Indonesia. Namun atensi yang dikembangkan oleh pemerintah maupun yang diterima publik saat ini belum menunjukkan hal tersebut. Uraian diatas menunjukkan bahwa pemerintah perlu memilih isu-isu strategis yang mengarahkan energi, pikiran, dan usaha anak bangsa agar Indonesia Maju 2045 terealisasi. Viralitas sebuah isu yang menyedot atensi bangsa belum tentu dibutuhkan, dan pemerintah perlu mengimbanginya. Penyajian isu-isu strategis bangsa sesuai dengan karakteristik publik, baik dari segi usia, pendidikan, atau penghasilan; perlu dilakukan. Menggandeng influencers dan content creators agar agenda-agenda strategis bangsa menjadi atensi publik perlu dilakukan. Atensi juga perlu diciptakan oleh pemimpin, agar isu-isu strategis bangsa dapat menggerakkan pikiran, waktu, energi, dan sumberdaya anak bangsa untuk mencapainya. Atensi kolektif ini yang akan menentukan akselerasi pencapaian Indonesia Maju 2045.