Opini Dr. Suparto Wijoyo, Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR: Renungan Hari Bumi 22 April – Sudilah Mendengar Suara Bumi (Harian Jawa Pos, 22 April 2022)

Renungan Hari Bumi 22 April: Sudilah Mendengar Suara Bumi

Dr. Suparto Wijoyo
Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Harian Jawapos, 22 April 2022
https://www.jawapos.com/opini/22/04/2022/renungan-hari-bumi-22-april-sudilah-mendengar-suara-bumi/?amp

Bumi makin gelisah. Pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) terus menghantui perjalanan bumi ke depan. Komitmen pemimpin-pemimpin dunia bergerak fluktuatif. Kuat di lembaran naskah perjanjian, tetapi lemah pada tingkat implementasi. Akhirnya, kabar buruk datang dari pantai timur Afrika Selatan berupa banjir bandang yang mengenaskan.

Ratusan korban jiwa dan ribuan orang menjadi pengungsi. Pekan lalu Perdana Menteri Provinsi KwaZulu-Natal Sihle Zikalala merilis jumlah korban tewas mencapai 443 orang pada 17 April dan puluhan belum ditemukan. Bencana tersebut memiliki dampak ekonomi dan kehancuran infrastruktur yang besar.

Di Indonesia, menurut BNPB, terjadi 1.175 bencana hidrometeorologi selama periode 1 Januari hingga 3 April 2022. Di antaranya 459 kejadian banjir, 428 bencana akibat cuaca ekstrem, 213 tanah longsor, 58 karhutla, 9 gempa bumi, serta 8 gelombang pasang dan abrasi. Bencana itu mengakibatkan 20.962 rumah rusak yang terdiri atas 3.505 rusak berat, 3.919 rusak sedang, dan 13.538 rusak ringan. Peristiwa tersebut menyentak justru pada saat publik global menyongsong setengah abad lebih Hari Bumi, yang diperingati tiap 22 April. Tema yang diambil tahun ini adalah Invest in Our Planet dengan subtema Nature in the Race to Zero.

Terdapat peneguhan untuk mencapai nol emisi gas rumah kaca (GRK) guna menjaga kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius. Suatu ”cita dasar” yang dibutuhkan bumi. Hal itu menerawangkan pikiran pada langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) tertanggal 17 September 2021.

Kehadiran Presiden Jokowi di ajang Major of Economies on Energy and Climate 2021 saat itu secara ekologis amat membanggakan. Ini menjadi penanda bahwa Indonesia turut terpanggil mengatasi kegelisahan masyarakat internasional. Perubahan iklim dan pemanasan global adalah realitas yang mengancam masa depan umat manusia. Agenda virtual yang dimotori Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden saat itu pun untuk memastikan kenaikan suhu bumi tidak melebihi 1,5 derajat Celsius.

Indonesia lantang menyampaikan komitmennya dalam berkontribusi menghadapi situasi darurat perubahan iklim. Pemerintah RI mencanangkan transformasi menuju energi baru dan terbarukan agar lebih signifikan. Agenda kebijakan ramah lingkungan ditancapkan dengan melakukan akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau, peningkatan penggunaan biofuel, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik.

Bahkan, Indonesia mempersiapkan green industrial park seluas 20 ribu hektare di Kaltara, teknologi karbon, energi hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon. Sebuah ambisi yang sangat bermakna dalam takaran penyelamatan lingkungan di masa depan.

Apa yang disampaikan Presiden Jokowi tersebut –yang langkah konkretnya dimatangkan dalam Konferensi Para Pihak (COP26) 31 Oktober hingga 13 November 2021 di Glasgow– adalah jawaban Indonesia atas potret iklim global. Sejatinya The World Resources Institute (WRI) di kurun 1900–1999 telah melaporkan bahwa negara negara industrilah yang menghasilkan lebih dari 60 persen (%) emisi CO2 dari jumlah 254,8 miliar ton.

AS mengeluarkan emisi CO2 tertinggi di dunia: 30,3% atau sebesar 77,3 miliar ton dari total emisi CO2 yang dikeluarkan seluruh dunia. Rusia adalah penyumbang emisi CO2 kedua terbesar: 22,7 miliar ton yang setara 8,9% dan disusul Jerman 18,6 miliar ton atau 7,3% dari jumlah seluruhnya. Jepang menduduki penyumbang emisi CO2 sebesar 9,4 miliar ton atau 3,7% dari total keluaran CO2 dunia dan Indonesia merupakan ”produsen” emisi CO2: 2,4–2,6%.

Kondisi terbaru telah berubah. Dari data Climate Watch yang dirilis WRI Indonesia (2020), Tiongkok menjadi kontributor emisi GRK terbesar hingga awal 2018. Negeri itu menghasilkan 12.399,6 juta metrik ton karbon dioksida ekuivalen (MtCO2e). Jumlah itu setara 26,1% dari total emisi global.

AS menyusul dengan menyumbang 6.018,2 MtCO2e yang setara dengan 12,7% emisi global. Kemudian, Uni Eropa menyumbang 3.572,6 MtCO2e atau setara 7,52% emisi global. Indonesia ternyata masuk dalam daftar sepuluh negara dengan emisi GRK terbesar di dunia. Tercatat, emisi GRK yang dihasilkan sebesar 965,3 MtCO2e atau setara 2% emisi dunia. Mayoritas emisi GRK Indonesia berasal dari sektor energi.

Konsentrasi emisi GRK yang diperkirakan terus berlipat pada tahun 2030 akan meningkatkan efek suhu bumi. Kecenderungan naiknya emisi GRK menyebabkan kenaikan suhu dalam kisaran 1,3–4,5 menjadi 6 derajat Celsius di akhir abad ke 21. Realitas itu membuktikan bahwa pemanasan global merupakan kenyataan yang mengancam keseimbangan bumi.

Pada titik inilah, meminjam kata-kata Alan Weisman dalam The Word Without Us: bergantung pada sesuatu yang disebut megalinkage. Artinya, dibutuhkan kebijakan penentuan koridor penghubung semua bangsa di mana manusia bakal ”sedia setia” hidup berdampingan bersama alam. Langkah itu tidak dapat dikerjakan tanpa bantuan sejumlah besar manusia, khususnya orang-orang kaya.

Dalam pemanasan global, orang miskin adalah pihak yang paling menderita. Kebiasaan orang kayalah yang paling memperparah pemanasan global sehingga mereka seharusnya memikul tanggung jawab etika paling signifikan. Daniel Goleman dalam karya fenomenalnya, Ecological Intelligence, mencatat: satu miliar penduduk negara maju mengonsumsi 32 kali lebih banyak daripada penduduk dunia yang miskin. Itu berarti tidak hanya 32 kali lebih banyak dalam penggunaan sumber daya energi, tetapi juga dalam produksi GRK. Maka, mengatasi iklim dunia butuh kepemimpinan kolektif dan visi ekologis yang kolosal dengan kecerdasan lingkungan (ecological intelligence).

Kita semua dapat ambil bagian, paling tidak sudilah mendengar suara bumi terdekat ini. Saatnya telah tiba. Dunia memanggil kepemimpinan yang ramah lingkungan (green leadership). Stimulus ekonomi, ketertiban hukum, dan industri hijau, mengikuti bahasa Erich Fromm, sesungguhnya adalah pemantik ”revolusi harapan” (revolution of hope) agar manusia ramah pada bumi ini.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/