Kuliah Umum bersama Dr Iftekhar Ahmed, Univ Newcastle Australia, dan Dr Annisa Srikandini, UNICEF Indonesia: Perlindungan Dampak Sosial Akibat Bencana

Berita Sekolah Pascasarjana UNAIR, 2 Jun 2021 – Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar International Webinar dengan topik ADAPTIVE SOCIAL PROTECTION DI INDONESIA. Hadir sebagai pembicara antara lain Dr Iftekhar Ahmed dari University of Newcastle, Australia, Dr Annisa Gita Srikandini dari UNICEF Indonesia, serta Dr Vivi Yulaswati., MSc, dari Minister of National Development Planning for Social Affairs and Poverty Reduction. Acara ini dipandu oleh moderator yakni Dr Arief Hargono dari program Master of Disaster Management Sekolah Pascasarjana UNAIR. 

Iftekhar berpendapat bahwa Adaptive Social Protection (ASP) diperlukan untuk mempersiapkan penanganan bencana di dunia agar mengurangi besaran dampak yang ditimbulkan pasca bencana. ASP sudah diterapkan oleh PBB di Indonesia mulai tahun 2020 untuk mengatasi masalah pandemi COVID-19. Pandemi memang menyebabkan keruntuhan perekonomian, yang menyebabkan daya beli menurun, serta penghasilan masyarakat yang ikut menurun secara drastis. 695,2 Triliun rupiah telah dikucurkan oleh pemerintah Indonesia untuk penanganan COVID-19 sendiri. Bantuan kemanusiaan sendiri digunakan untuk tujuan mengintervensi efek dari bencana berskala nasional, sehingga bisa menghindari korban jiwa lebih banyak. 

Sedangkan Yulaswati mengemukakan bahwa perubahan iklim yang tidak diikuti dengan pembangunan berbasis perkembangan iklim akan menciptakan sekitar 100 juta orang miskin baru secara ekstrem pada tahun 2030. Beliau juga berpendapat bahwa ada beberapa jalur yang membuat ketahanan masyarakat meningkat, sehingga kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana bisa direspon dengan cepat. Ketiga hal tersebut yakni perlindungan sosial, adaptasi perubahan iklim, serta mitigasi kerugian bencana. 

Ada empat langkah yang harus disiapkan untuk membangun perlindungan sosial, yakni membangun data dan informasi tentang masyarakat, pengelolaan keuangan yang baik pada pemerintah daerah untuk penanganan bencana, perencanaan institusional dan kerjasama dengan berbagai instansi, serta program yang baik untuk mitigasi bencana. “Pandemi COVID perlu reformasi pada perlindungan sosial di berbagai negara,” Ungkapnya. Pada saat terjadi bencana, dana yang paling siap untuk disalurkan kepada penanganan bencana memang anggaran dari pemerintah. Penentuan anggaran untuk penanganan bencana bergantung pada siapa saja targetnya, berapa banyak masyarakat yang terdampak, serta berapa lama penyaluran anggaran tersebut. 

Senada dengan hal tersebut, Annisa berpendapat bahwa perlindungan sosial secara adaptif diperlukan setiap negara untuk melindungi dampak ekonomi pada masyarakat jika terjadi goncangan.  Indonesia sendiri menerapkan tiga macam dalam implementasi perlindungan sosial untuk pandemi COVID-19, yakni jaminan hidup, PKH adaptif, serta respon cepat terhadap munculnya kasus positif untuk menangkap program baru yang lebih efisien. Idealnya, program perlindungan sosial yang baik harus dilandasi dengan mekanisme yang komprehensif dalam penanganan, didukung oleh elit politik, serta bisa diterapkan pada target perlindungan sosial.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/