Jebakan Peringkat Menengah Perguruan Tinggi Indonesia (Kompas, 7 Juli 2023)

Jebakan Peringkat Menengah Perguruan Tinggi Indonesia

Badri Munir Sukoco
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Airlangga

https://pasca.unair.ac.id/badri-sukoco

Kompas – 7 Juli 2023

Lima perguruan tinggi Indonesia, yakni UI, UGM, ITB, Unair, dan IPB University, menempati peringkat terhormat, Top 500, dalam QS World University Ranking (QS-WUR) terbaru, akhir Juni lalu.

Ini menjadi momen menggembirakan sekaligus membanggakan bagi bangsa Indonesia, khususnya pimpinan dan sivitas akademika kelima perguruan tinggi (PT) itu.

Bagi Asia, tahun ini juga membanggakan. National University of Singapore (NUS) menjadi wakil Asia dalam Top 10 dunia (peringkat ke-8). Dalam Top 100 dunia, wakil Asia bertambah dari 15 PT (2010) menjadi 23 PT tahun ini. China diwakili lima PT, ditambah lima PT dari Hong Kong dan satu PT dari Taiwan. Korea Selatan lima PT, diikuti Jepang (4), Singapura (2), dan Malaysia (1). Tidaklah salah jika banyak ahli menyampaikan bahwa Abad Asia segera datang.

Dinamika peringkat yang dialami kelima PT wakil Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan beratnya untuk bisa masuk dalam jajaran Top 200 dunia, apalagi Top 100. Meminjam istilah ekonomi, ”jebakan peringkat menengah” atau middle ranking trap (MRT) menjadi ancaman PT Indonesia.

MRT merepresentasikan ketakmampuan PT keluar dari peringkat menengah ke peringkat yang lebih tinggi (Top 100 atau Top 200) karena keterbatasan sumber daya ataupun kultur akademik dalam menghasilkan publikasi berkualitas. Kajian Uslu (2020) atas pemeringkatan ARWU, THE, dan QS (trio lembaga pemeringkat dengan legitimasi tertinggi di dunia) menunjukkan kualitas publikasi berdampak 73,71 persen.

Istilah MRT dikembangkan oleh Prof Chang Da Wan (2015) untuk menggambarkan stagnasi pemeringkatan lima PT top di Malaysia pertengahan dekade lalu. Di Indonesia, MRT jadi perhatian Tim Program Pengembangan WCU (World Class University) Ditjen Dikti, Kemendikbudristek; dan dipopulerkan Prof Hermawan K Dipojono selaku ketuanya dalam tiga tahun terakhir.


Ray Dalio dalam The Changing World Order (2021) mengilustrasikan negara akan memiliki hegemoni di dunia karena siklus besar (big cycle) dari delapan kekuatan yang dimiliki.

Kekuatan ini diawali oleh (1) pendidikan yang menghasilkan pengetahuan dan keterampilan tinggi bagi bangsanya. SDM dengan pengetahuan dan keterampilan tinggi akan menghasilkan inovasi yang (2) berdaya saing tinggi, khususnya melalui (3) teknologi.

Kondisi ini menghasilkan (4) tingginya pertumbuhan ekonomi sehingga (5) kontribusi pada perdagangan dunia meningkat. Untuk menjaga hegemoni ekonomi, dibutuhkan (6) militer yang kuat dengan dukungan (7) pusat keuangan dan (8) mata uang yang kuat dan digunakan di mana-mana.

Big cycle ini terjadi pada Belanda (abad ke-16), Spanyol (abad ke-17), Inggris (abad ke-18-19), AS (abad ke-20-sekarang), dan kini AS hegemoni ditantang China. Siklus ini menjelaskan awal mula hegemoni sebuah negara dimulai dengan pendidikan tinggi yang berkualitas sehingga SDM yang ada mampu menghasilkan inovasi yang bernilai tinggi.

Buku Empire of Ideas (Kirby, 2022) menunjukkan peran sentral PT dalam memimpin inovasi dan teknologi sebuah negara. Diilustrasikan kedigdayaan Jerman permulaan abad ke-20 diawali oleh produktivitas dan inovasi yang dihasilkan ilmuwan-ilmuwan yang berkarier di Universitas Berlin.

Berfokus untuk jadi universitas riset, Berlin menjadi model yang sukses dalam memajukan ilmu dan teknologi dan menjadikan Jerman maju di awal abad ke-20. Pasca-Perang Dunia II, model itu diaplikasikan di beberapa PT AS dan memperkuat hegemoninya sebagai pemenang perang bersama sekutu hingga sekarang. Dalam berbagai pemeringkatan global, dominasi PT AS tak terkalahkan. Awalnya dibantu pengembangannya oleh PT AS, sekarang PT terbaik di China mulai mengimbangi dan berambisi mengalahkan PT terbaik AS.

Ini juga terjadi seiring meningkatnya daya saing China di perekonomian global, khususnya di inovasi dan teknologi bernilai tambah tinggi yang dihasilkan.


Bappenas tahun 2015 memasukkan indikator peringkat PT berkelas dunia sebagai indikator kinerja (KPI) Kemenristekdikti. Kelima PT terbaik di Indonesia ditargetkan masuk Top 500 QS WUR pada 2019. Tahun 2015, hanya UI (358) dan ITB (431-440) yang masuk Top 500. Tahun 2019, hanya tiga yang masuk: UI (296), UGM (320), ITB (331).

Tahun ini, kelima PT telah masuk Top 500, UI memimpin (naik ke-237 dari 248), UGM secara mengejutkan turun dari 231 ke 263, ITB turun dari 235 ke 281, Unair naik dari 369 ke 345, dan IPB turun dari 449 ke 489. Dalam empat tahun terakhir, terlihat PT Indonesia mengalami kesulitan masuk jajaran Top 200. Bahkan, tiga PT turun posisinya (UGM, ITB, IPB). Hanya Unair yang konsisten naik, lima tahun terakhir.

Secara umum, kelima PT itu mengandalkan survei yang berkontribusi 50 persen (tahun ini 45 persen) terhadap bobot pemeringkatan, baik kepada sesama kolega dari seluruh dunia (academic reputation) maupun pengguna lulusan (employer reputation). Ini tecermin dari meningkatnya skor kedua indikator itu.

Masalah laten yang belum terselesaikan adalah skor citation per faculty, yakni berapa sitasi yang didapatkan dari publikasi ilmiah yang dihasilkan. Dalam delapan tahun terakhir, meski jumlah publikasi melonjak lebih dari 500 persen, skor sitasi yang dimiliki masih berkisar pada angka 2 (dari skala 100).

Ini dapat dimaklumi karena kontribusi publikasi ilmiah pada prosiding seminar internasional 46,04 persen (2017-2021). Untuk jurnal yang berkualitas (Top 10 persen), reratanya hanya mencapai 6,8 persen. Dibandingkan University of Malaya/UM (22 persen) atau NUS (46,90 persen), tentu capaian ini masih sangat perlu ditingkatkan.

Bank Dunia memodelkan WCU dengan tiga komponen: concentration of talents, abundant resources, dan favorable governance (Salmi, 2009). Dosen berkompetensi tinggi (khususnya meneliti dan publikasi di jurnal bereputasi tinggi) dengan jejaring global adalah tulang punggung PT berkelas dunia.

Dosen peneliti harus diimbangi proporsinya dengan dosen pengajar yang berkompetensi tinggi dalam mengawal proses transfer ilmu pengetahuan yang terakreditasi internasional (misalnya, AACSB, ASIIN). Keberadaan mahasiswa, khususnya pada tingkat pascasarjana, yang berkualitas, dibutuhkan untuk meneliti dan memublikasi pada jurnal yang bereputasi tinggi. WCU juga membutuhkan dosen dan mahasiswa internasional agar interaksi antarbudaya meningkatkan potensi kreativitas dan inovasi yang dihasilkan.

Dari 4.268 dosen NUS, 63 persen dosen internasional. Proporsi mahasiswa internasionalnya juga besar (8.129 orang) dari total 30.725 mahasiswa yang ada. Meski mahasiswa pascasarjananya hanya 18 persen, publikasi per mahasiswa pascasarjana adalah 2,17.

Ketersediaan sumber daya yang melimpah, khususnya dana publik yang dikelola pemerintah, merupakan sebuah keniscayaan. NUS tahun 2022 menerima dana riset 956,3 juta dollar AS (Rp 10,637 triliun). Hanya 8,19 persen berasal dari industri, sisanya dari beragam kementerian. National Research Foundation dan Kementerian Pendidikan dominan kontribusinya, mencapai 56,02 persen. Terkecil Kementerian Pertahanan, setara Rp 203,5 miliar.

Anggaran riset NUS jauh lebih besar dibandingkan anggaran BRIN tahun ini (Rp 6,3 triliun), dengan 65 persen dialokasikan untuk dukungan manajemen. Keberadaan endowment funds juga sangat krusial, dana abadinya Rp 69,71 triliun. Ketersediaan dana publik dan dana abadi mengurangi ketergantungan pada PT SPP dari mahasiswa sehingga stratifikasi sosial (yang kaya dapat kuliah di PT terbaik) dapat diminimalkan.

Tata kelola yang menguntungkan terkait otonomi diberikan oleh pemerintah kepada pengelola PT. Tak hanya otonomi dalam mengelola keuangan; SDM bertalenta tinggi (khususnya pengajar atau peneliti potensial) tentu membutuhkan paket kompensasi dan dana riset yang berbeda dengan standar yang selama ini ada. Apalagi jejaring global yang telah dimiliki menjadikan mereka punya pilihan di beragam WCU lain.

Selama ini, perekrutan pengajar dan/atau peneliti lebih banyak mengandalkan nostalgia atau nasionalisme tanpa jaminan kehidupan yang layak sehingga diaspora yang bertalenta enggan untuk berkarya di PT dalam negeri.

Selain itu, ekspektasi luaran dari hibah riset pemerintah yang harus dipublikasikan dalam dua tahun akan mendorong semua hasil riset terpublikasi maksimal hanya Q1. Publikasi berkualitas (jurnal Top 10 persen) rata-rata membutuhkan 3-4 tahun, mulai dari riset hingga terpublikasi. Kondisi ini membuat publikasi yang berkualitas belum optimal di Indonesia. Termasuk bagaimana PT itu di-positioning-kan dalam kompetisi global.

Melalui program Accelerated Programme for Excellence (APEX), Malaysia mendorong lima PT terbaiknya untuk menjadi WCU (Top 100) dengan mekanisme berbeda. Salah satunya, Universiti Sains Malaysia (USM) dengan Transforming Higher Education for a Sustainable Tomorrow. Tujuannya jadi yang terdepan dalam isu-isu keberlanjutan. Hasilnya, di THE Impact Ranking 2023, USM menduduki peringkat empat dunia, dan UM peringkat 101-200.

Pembangunan SDM dampaknya tak langsung dapat dinikmati, tetapi dalam jangka panjang memungkinkan sebuah negara memasuki big cycle berkesejahteraan tinggi. Tahun 1998, Presiden China Jiang Zemin mengumumkan Project 985 untuk mengembangkan WCU.

Untuk jadi negara maju, tak ada cara lain selain menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi oleh SDM yang berpengetahuan dan berkompetensi tinggi. SDM yang berkualitas hanya bisa dihasilkan oleh WCU,.

Program ini menginspirasi Prof Nian Cai Liu dari Shanghai Jiao Tong University mengembangkan indikator-indikator universal PT berkelas dunia tahun 2003, Academic Ranking World University (ARWU). Pemeringkatan ARWU mengilhami lahirnya lembaga-lembaga pemeringkatan PT global lain, termasuk THE dan QS. Jika tahun 2010 hanya terdapat 10 PT China dalam Top 500 QS WUR, tahun ini 29 PT. Bahkan empat di antaranya masuk dalam Top 50 dunia.

Dua puluh sembilan PT itu dengan sivitas akademinya aktif berkolaborasi dengan industri untuk menghilirisasi inovasi yang ada. Ketika produknya bernilai tambah tinggi, ekonomi China membesar kontribusinya di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah dibutuhkan pendidikan tinggi berkelas dunia dan kapabilitas inovasi yang tinggi (Lee, 2019). Namun, saat ini, PT terbaik Indonesia besar kemungkinan masuk MRT. Butuh keberpihakan yang jelas dan anggaran mencukupi agar PT Indonesia mampu berkompetisi dan menghasilkan SDM berkelas dunia. Ketersediaan talenta terbaik, sumber daya melimpah, dan tata kelola yang menguntungkan harus dipenuhi agar PT kita lepas dari MRT.

Badri Munir Sukoco Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga