Jadikan produk Dalam Negeri, Tuan Rumah di Negeri Sendiri 

Pakar Manajemen Strategi ingatkan pentingnya ekosistem inovasi  

Berita UNAIR Pascasarjana, Senin 20 Maret 2023 – Dilansir dari setkab.go.id Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) terus mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) di instansi pemerintah baik pusat mau daerah serta badan usaha milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD). Presiden pun meminta jajarannya untuk mengkaji pemberian insentif maupun sanksi atau reward and punishment bagi instansi terkait belanja produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasanya. 

Hal tersebut disampaikan Presiden saat membuka Business Matching Produk Dalam Negeri Tahun 20223, Rabu (15/03/2023), di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta. 

“Sudah, pokoknya kalau yang masih beli, baik BUMN, BUMD, provinsi, kabupaten/kota, kementerian/lembaga masih coba-coba untuk beli produk impor dari uang APBN, APBD, BUMN, ya sudah sanksinya tolong dirumuskan, Pak Menko [Kemaritiman dan Investasi],” ujar Presiden. 

Selain itu, Presiden juga telah memerintahkan kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) untuk menghubungkan tunjangan kinerja (tukin) dengan tingkat pembelian produk dalam negeri. 

“Itu akan kita hubungkan, saya sudah perintah ke Menpan RB untuk yang namanya tukin –ini kalau sudah masuk ke tukin pasti semuanya akan semangat– akan kita hubungkan dengan pembelian produk dalam negeri di kementerian/lembaga, kabupaten/kota, dan provinsi,” ujarnya. 

Dengan adanya sistem reward and punishment ini Presiden berharap penggunaan produk dalam negeri di instansi pemerintah dan badan usaha milik negara/daerah terus meningkat. 

Menjadi sebuah pertanyaan, mengapa pemerintah tak henti-hentinya begitu serius dan getol mempromosikan produk karya anak bangsa sendiri, bahkan tak tanggung-tanggung sampai mendorong mulai tingkat masyarakat hingga instansi dari level daerah hingga pusat untuk melakukan pembelian produk dalam negeri, apakah produk dalam negeri belum mendapat tempat di hati masyarakat, atau jangan-jangan produk yang dihasilkan tidak menjawab kebutuhan masyarakat ? 

Semangat menuju Indonesia Maju 2045 yang terus digaungkan jangan hanya menjadi jargon politik belaka, apalagi mendekati tahun-tahun politik, Indoneisa harus fokus dan serius menyiapkan seluruh energy berbangsa dan bernegaranya untuk menjemput 100 tahun kemerdekaan, dan hal tersebut bisa diraih melalui sinergi dan kolaborasi antar seluruh komponen. 

Prof. Badri Munir Sukoco,dalam tulisannya yang berjudul “Ekosistem Inovasi dan Daya Saing Bangsa” yang dimuat di harian Kompas (10/03/2020) mengatakan Selama ini, kita memperlakukan inovasi sebagai sistem, bukan sebagai ekosistem. Konsekuensinya, inovasi layaknya silo-silo yang bekerja secara terpisah. Perguruan Tinggi Indonesia berlomba memperbanyak kuantitas publikasi ilmiah di jurnal yang terindeks Scopus (+60% dari indikator yang ada pada WCU), namun keterkaitan inovasi dengan industri relatif rendah. 

Start-up yang sedang dan telah berkembang ditangani oleh Badan Ekonomi Kreatif masih bertugas secara parsial dan cenderung berkompetisi dengan Kementerian atau Lembaga Negara Lain (K/LN). Terdapat peraturan OJK yang mempersyaratkan minimal 2 tahun berdiri dan menunjukkan laba agar dapat dibiayai lembaga keuangan di Indonesia. Peraturan tersebut tidaklah start-up friendly. Peran pemerintah (baik pusat, provinsi, dan kota) adalah menciptakan ekosistem yang menarik dan menantang bagi pelaku industri kreatif. Dalam ekosistem, perguruan tinggi hanya satu dari bagian ekosistem yang menyuplai creativity dan creative class-nya. 

Ketika dunia makin volatile, uncertain, complex, dan ambiguous (VUCA), sebagian besar organisasi tidak memiliki sumberdaya untuk mengembangkan dan mengkomersialisasikan produk inovatifnya tanpa melibatkan yang lain. Hal inilah yang mendasari pentingnya ekosistem inovasi, yang terdiri atas beragam organisasi; hubungannya semi-permanen dan diikat oleh data, layanan, dan modal; berkolaborasi, berkompetisi sekaligus saling melengkapi; dan coevolve satu sama lain berdasarkan kapabilitas dan hubungan yang dinamis sepanjang waktu. 

Dicontohkan olehnya, dalam tulisan yang dimuat harian Republika (13/11/2019) Guru Besar UNAIR termuda ini pun mengatakan  China. Sejak mencanangkan Made in China 2025, ditetapkan 10 industri strategis yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi agar terlepas dari middle income trap, tak berhenti sampai disitu, Pemerintah menginstruksikan agara Perguruan Tinggi di Cina memfokuskan diri dalam hal penelitian ke 10 sektor tadi dan berdasar Data Scival (database publikasi ilmiah dengan cakupan: +14.000 lembaga riset, +230 negara, +48 juta karya ilmiah pada 1.433 topik) menunjukkan bahwa pada 10 bidang tersebut, kuantitas publikasi ilmuwan China sangatlah dominan. 

Untuk Artificial Intelligence, dihasilkan 95.722 karya ilmiah sepanjang 2009-2018 (sebagai perbandingan, semua topik karya ilmiah yang dihasilkan ilmuwan Indonesia pada periode yang sama sebesar 99.795 buah). AS menghasilkan 38.117 karya ilmiah, adapun India hanya setengahnya AS. Chinese Academy of Sciences (CAS) memiliki kontribusi terbesar, diikuti oleh Ministry of Education China (MOE-C), baru universitas-universitas yang ada (Tsinghua, Beihang dan lainnya). Saat ini, 3% dari karya ilmiah ilmuwan China digunakan oleh perusahaan. Tidaklah mengherankan paten yang diajukan oleh China terbesar pada bidang digital communication dan computer technology, dan total paten yang diajukannya 3 kali lipat dibandingkan yang diajukan oleh USA (sebesar 1.542.002 paten pada tahun 2018, WIPO). 

Dalam hal ini, peran Pemerintah untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri sudah sangat bagus, akan tetapi agar produk yang dihasilkan inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar serta memiliki nilai tambah tinggi maka dibutuhkan sinergi antara dunia pendidikan tinggi, industri dan pemerintah sebagai pengatur regulasi, dan yang paling utama adalah semua komponen bangsa harus fokus pada target yang sama, agar hasil penelitian yang dilahirkan bisa dimanfaatkan, dan berguna bagi kemajuan bangsa. 

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/