Executive Training PT PJB bersama Muhammad Thanthowy Syamsuddin, MAB. – UNAIR : Competitor Analysis

Berita Pascasarjana UNAIR, 13 Juli 2021 – Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) lewat lembaga pengembangan sumber daya manusia, yakni Executive Learning Hub (ELH) menyelenggarakan training untuk PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), anak perusahaan PT PLN. Sesi kali ini hadir dengan topik Competitor Analysis. Hadir sebagai narasumber utama yakni Muhammad Thanthowy Syamsuddin dari Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) UNAIR. Sesi ini hadir pada hari Selasa, 13 Juli 2021. 

Thanthowy bercerita dimana dulu ada persaingan ketat antara Fujifilm dan Kodak dalam industri fotografi. Namun Fujifilm mendiversifikasi produk mereka sangat berbeda dengan core bisnis mereka. hasilnya Fujifilm sekarang berubah menjadi perusahaan multi-industry, sedangkan Kodak tidak bisa bertahan sekarang. Dalam hal tersebut, Thanthowy menganalisis hal tersebut menjadi dua hal, yakni aset yang kasat mata, dan tidak kasat mata/tak berwujud.

Aset kasat mata termasuk kekuatan finansial, bentuk fisik aset dan produk, organisasi/divisi yang ada, dan teknologi. Sedangkan aset yang tak berwujud meliputi kapabilitas sumber daya manusia (SDM), inovasi perusahaan, dan reputasi/brand image perusahaan serta produknya. Baik sumber daya kasat mata maupun tak berwujud saling membutuhkan. Semisal jika perusahaan mempunyai SDM yang kompeten dalam skill maupun  pengetahuan namun tidak ditunjang oleh aset berwujud seperti fasilitas dan kecanggihan teknologi. 

Thanthowy juga menambahkan contoh lain perusahaan kelas dunia yang sukses karena mengembangkan jaringan produknya yakni Amazon. Perusahaan ini awalnya hanya menjual produk buku di website, namun memperluas lini produknya. Selain ekspansi bisnis yang berbeda dengan core bisnis awal, investasi internal pada teknologi informasi menjadi kunci kesuksesan Amazon. 

Beliau juga berpendapat bahwa ekspansi lini bisnis bukan satu satunya strategi untuk berhasil dalam kompetisi. Contoh di indonesia sendiri yakni pada industri jasa transportasi, yakni antara Gojek dan Grab. Grab pernah merasa bahwa dinamika persaingan tidak akan potensial. Grab menawarkan untuk berbagi segmen pasar, namun ditolak oleh Gojek yang akhirnya merger dengan Tokopedia. Hal ini merubah peta persaingan secara umum, tidak hanya direspon oleh Grab sebagai pemain industri transportasi, tapi juga oleh industri E-commerce seperti Bukalapak, shoppee, dll. Kolaborasi atau bahkan merger dibutuhkan oleh perusahaan agar menghindari persaingan tidak sehat.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/