Aktivitas Prodi S2 Imunologi, International Webinar – World Immunology Day: Tantangan dan Efektivitas Vaksin dalam Memerangi SARS-COV-2

Berita Sekolah Pascasarjana UNAIR, 28 Apr 2021 – Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan webinar internasional untuk merayakan The 3rd World Immunology Day. Webinar ini berjudul “Recent Updates on COVID-19 Pandemic and The Preparedness of Human Body or The Next Outbreak”. Hadir sebagai narasumber Dr. Robertus H Kounang, M.d., sebagai General Physical Rehabilitation di Loma Linda University Amerika Serikat, Prof. Dr. Aryati., dr M.S., Sp.PK(K) dari Departemen Patologi Klinis Fakultas Kedokteran UNAIR,  Dr. Mohazmi Mohamed, MBBS., M.Med (Fam Med)., dari Department of Primary Care Faculty of Medicine Universitas Malaya Malaysia, Dr. Gatot Soegiarto dr. Sp.PD. KAI FINASIM., dari Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNAIR, dan Dr. Arif Rahman Nurdianto, dr.M.Imun., sebagai Kepala Puskesmas Trosobo Sidoarjo.   

Robertus mengemukakan bahwa vaksin untuk SARS-COV-2 masih belum bisa diprediksi durasi imunitasnya. Hal ini dikarenakan tiap vaksin mempunyai karakteristik yang berbeda dan masyarakat tiap negara mempunyai varian SARS-COV-2 yang beragam pula. “Namun berdasarkan uji klinis, diperkirakan imunitas bisa bertahan hingga 3 bulan,” Ungkapnya. Terdapat dua jenis sampel yang digunakan untuk vaksin, virus yang dilemahkan, dan virus yang telah mati. Untuk manusia dengan sistem imunitas tubuh yang rendah, vaksin dengan sampel virus yang telah mati lebih cocok digunakan. Namun hal ini membutuhkan jumlah sampel virus yang banyak. 

Tiap jenis vaksin mempunyai efektivitas dan kekurangan yang berbeda. Salah satunya yakni vaksin Johnson & Johnson yang efektivitasnya mencapai 85% untuk gejala serius, namun dikhawatirkan menimbulkan penggumpalan darah pada pasien tertentu. Sedangkan Gatot berpendapat bahwa vaksin merupakan bentuk pemberian imunitas kepada manusia secara artifisial. Faktor yang mempengaruhi efektivitas vaksin ada 3, yakni faktor host atau penerima vaksin, faktor eksternal diluar tubuh host, dan faktor vaksin yang digunakan. 

Menurut Arif, penyebaran SARS-COV-2 bisa ditanggulangi jika pemerintah fokus pada pengembangan inovasi produk kesehatan, pengembangan teknologi kecerdasan buatan untuk mengolah repository data rekam medis, serta regulasi support system untuk medis. Selain itu, para ahli imunologi harus lebih sering berpartisipasi pada kegiatan riset dan pengembangan inovasi, upaya pencegahan penyebaran di masyarakat, serta pendayagunaan teknologi yang tepat, sehingga bisa membantu pemerintah menghentikan korban jiwa akibat SARS-COV-2.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/