Airlangga Forum UNAIR Pascasarjana: Mitigasi Bencana dan Kesetiakawanan Sosial atas Gempa Cianjur

Airlangga Forum UNAIR Pascasarjana: Mitigasi Bencana dan Kesetiakawanan Sosial atas Gempa Cianjur

Berita UNAIR Pascasarjana, 21 Nov 2022 – Kita dikejutkan dengan peristiwa alam gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. Per hari Kamis 24 november 2022, jumlah korban sudah mencapai 272 orang, sementara bangunan yang rusak sudah mencapai lebih dari 56.000 bangunan.

Sesi pertama Airlangga Forum ke-109 “Mitigasi Bencana dan Kesetiakawanan Sosial atas Gempa Cianjur” disajikan tayangan laporan dari lokasi kejadian. Arti Novelia, alumni Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana UNAIR, mewakili tim AJU Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Provinsi Jawa Timur, dirinya hadir sebagai tim pengelola data. Situasi terkini dikabarkannya saat kedatangan hari pertama adalah kesulitan membangun pos Provinsi Jatim karena faktor pemetaan zona merah, kuning, hijau yang belum jelas mengingat risiko kemungkinan gempa susulan yang akan terjadi. “Namun di hari kedua, emergency medical team melakukan pelayanan kesehatan di lokasi terdampak yang masih terisolir”, tambahnya. Novelia menyebutkan pentingnya mitigasi sebab banyak patahan-patahan di Pulau Jawa yang mempunyai ancaman terjadi gempa bumi, sehingga penting untuk menyiapkan kesiapsiagaan sejak dini.

Dipandu oleh mahasiswa Doktoral Pengembangan Sumber Daya Manusia, Dinar Apriyanto, menyambung pengetahuan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara yang secara geografis ada di wilayah ring of fire, salah satu daerah-daerahnya ini menjadi jalur rangkaian gunung berapi. Tercatat aktif seismik membentang di Samudra Pasifik memiliki potensi yang disebut rawan secara kegempaan dan inilah yang terjadi pada saudara dan rekan kita di Cianjur dengan gempa magnitudo sekitar 5,6 skala richter.
Pada dasarnya kita selalu bisa menimilasir jumlah kerugian dan kehilangan. Mhd. Zamal Nasution, S.Si., M.Sc., PhD, Wakil Ketua Unit Kemitraan Internasional Sekolah Pascasarjana UNAIR mengatakan “Adaptif adalah salah satu caranya. Mengambil contoh di Belanda dulu pernah melarang pemukiman menggunakan beton di daerah-daerah rawan bencana. sehingga poin penting di sini adalah pengetahuan, pemahaman dan mungkin aturan untuk membangun pemukiman yang adaptif terhadap bencana. Begitu pula dengan berkaca dari negara jepang yang rawan akan gempa dan tsunami, kesiapsiagaan dan antisipasi secara kegempaan lebih baik.”

Imbuh pernyataan setuju, Ketua Unit Pengabdian Masyarakat, Dr. Hijrah Saputra, S.T., M.Sc memiliki opini bahwa belajar dari yang lalu merupakan sikap bijak. Dalam konteks pengabdian masyarakat pun, bersumber dari penelitian-penelitian terdahulu inilah kemudian hasil yang akan diperbantukan kepada masyarakat harapannya benar-benar sesuai dengan yang masyarakat butuhkan.

Dr. Hariyono, M.Kep, Dosen Magister Ekonomi Kesehatan menyebutkan dua poin penting dalam rangka mitigasi yakni: melalui peningkatan pemahaman masyarakat, meningkatkan sikap serta perilaku terhadap bencana dan lingkup sektoral menjadi multisektoral, sehingga tata laksana bencana ini tidak hanya pemerintah saja tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama.

Menghadirkan ahli yang menyoroti bidang lainnya, Dr. Ni Luh Ayu Megasari, S.Gz., M.Ked.Trop, Dosen Magister Imunologi membagikan sebuah pengingat untuk bertahan secara imun dalam kondisi darurat seperti bencana alam dengan menerapkan hidup bersih dan sehat. “Lalu, ketika kondisi bencana, penyelenggaraan makanan tidak semudah kondisi normal. Jika makanan tidak seimbang, masyarakat bisa mengonsumsi suplemen seperti vitamin C, suplemen yang mengandung zinc”, imbuhnya.

Maka secara keseluruhan, mitigasi merupakan upaya pra bencana. Koordinator Program Studi Magister Manajemen Bencana, Dr. Arief Hargono, drg., M.Kes memberikan informasi kepakarannya terhadap mitigasi dengan terbaginya dua jenis mitigasi. Yakni mitigasi struktural, dengan membangun bangunan yang adaptif terhadap bencana dan mitigasi non struktural, melalui peran serta masyarakat terutama pemahaman atau kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana yang ada di sekitar mereka. “Pun, dengan upaya mitigasi-mitigasi tersebut, akan menjadi optimal jika didukung dengan kebijakan yang berlaku”, tuturnya.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/