Airlangga Forum tema Membangun Ekonomi Pesantren

Kita begitu akrab dengan istilah mencintai alam, akan tetapi seringkali kehadiran kita tidak membuat alam bahagia, KH. Muslich Abbas pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Fatchul Ulum Pacet Mojokerto di AIRLANGGA FORUM dengan Creative Economy Network: MEMBANGUN EKONOMI PESANTREN BERSAMA SEKOLAH PASCASARJANA UNAIR, Senin 28 Desember 2020, dengan Host nya Assoc. Prof. Suparto Wijoyo Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR.

Menurutnya kita (manusia) harusnya bersyukur karena Allah SWT memberikan nilai lebih dibanding ciptaanNya yang lain dengan akal pikiran, akan tetapi kerap kita tidak mampu menemukan potensi yang dimiliki oleh alam sehingga justru kerusakan yang kita timbulkan. Dicontohkan tentang gerak perkebunan hingga peternakan yang dimiliki oleh ponpes yang dalam perjalanannya memanfaatkan limbah MCK dari para santri yang ditempat lain mungkin dibuang begitu saja, akan tetapi disini justru menjadi pupuk organik.

Kadang hal yang paling mendasar, adalah kita begitu asyik dengan menikmati karya orang lain, tanpa pernah berpikir kapan kita mempersembahkan karya agar bisa dinikmati orang lain, hal inilah yang ditanamkan kepada para santri ketika mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren, berkaca pada langkah Rasulullah Muhammad SAW dalam membangun peradaban dengan ekonomi yang kuat dan hadir untuk memberi manfaat bagi semua bukan malah menjadi beban.

Prof. Badri Munir Sukoco Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga menyampaikan bahwa menurutnya Pondok Pesantren Fatchul Ulum yang dipimpin oleh KH. Muslich Abbas adalah lembaga yang sangat millenial hal ini didasarkan pada data dari 17 Sustainable Development Goals yang ditampilkan oleh PBB, 8 poin berbicara tentang alam dan kesemuanya sudah terbahas secara detail dan jelas.

Bila mengutip data dari KEMENAG dimana tercatat ada sekitar 5 juta satri yang mukim dengan jumlah pesantren sebanyak 28.914, bila dibuat hitungan secara ekonomi semisal per santri mendapat kiriman 500 ribu per bulan, maka ada sekitar 30 triliun berputar di wilayah Ponpes belum lagi ditambah dengan jumlah tenaga pengajar yang terdata sekitar 1,5 juta tenaga pengajar, anggaplah dengan gaji 2,5 juta maka total perputaran uang bisa mencapai 75 triliun.

Ketika ditanya tentang hubungan transformatif leadership dan Pesantren yang bertransformasi menjadi korporasi, Prof BM sapaan akrab beliau menyampaikan, hal tersebut  adalah lompatan maju yang dilakukan oleh Ponpes Fatchul Ulum dengan menanmkan jiwa-jiwa mandiri kepada para santri dan hal ini sejalan dengan sekolah Pascasarjana yang juga mengusung kepemimpinan transformatif dimana setiap lulusannya harus mempunyai mimpi besar yang membawa dampak bagi Indonesia dan dunia.

Ir. Kristomo yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengawas Kebun Binatang Surabaya yang memiliki pengalaman cukup panjang di bidang kehutanan (Perhutani) dan menjadi orang yang sangat dekat dengan KH.Muslich Abbas, meyampaikan bahwa pertemuan yang sudah berlangsung selama 14 tahun ini didasarkan pada tembang TOMBO ATI sebuah karya Sunan Bonang yang diangkat oleh EMHA Ainun Nadjib bersama Kiai Kanjengnya dan populer oleh Opick, salah satu liriknya berbunyi “Wong Kang Soleh Kumpulono” dan ternyata Allah SWT menjawab dengan ilmu-ilmu tentang alam yang begitu indah, maka akan semakin elok terlihat bila ilmu tersebut di aplikasikan dalam menjaga hutan jawa.