Airlangga Forum bersama Prof. Mohammad Nuh, Ketua Badan Waqaf Indonesia: Waqaf & Pengembangan Universitas

Berita Sekolah Pascasarjana UNAIR, 2 Jul 2021 – Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar AIRLANGGA FORUM pada hari Jumat, 2 Juni 2021. Kali ini webinar hadir dengan topik, WAQAF DAN PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI . Hadir sebagai narasumber yakni Prof. Mohammad Nuh sebagai ketua Badan Wakaf Indonesia, Prof. Badri Munir Sukoco sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Raditya Sukmana sebagai Ketua Program Studi S3 Ilmu Ekonomi Islam UNAIR, serta Suparto Wijoyo sebagai Wakil direktur III sekolah Pascasarjana UNAIR sekaligus sebagai Host AIRLANGGA FORUM. 

Nuh berpendapat bahwa wakaf ada perspektifnya. Masyarakat indonesia hanya melihat wakaf bentuknya sebagai physical asset. Seakan-akan wakaf hanya dinilai dari berapa rupiah atau berapa luas tanah yang disumbangkan. “Tetapi, jika kita melihat wakaf dari valuenya, wakaf juga berarti suatu perilaku yang gemar memberi. Jika kita sudah terbiasa untuk memberi, maka istilah meminta itu akan tidak ada, karena sudah menjadi perilaku untuk memberi,” ungkapnya.  Hal ini sama seperti dzikir, dimana manusia melakukan berulang-ulang agar tersimpan dalam memori sebagai suatu kebiasaan. Hal yang dilakukan akan menjadi suatu kebiasaan yang secara tidak sengaja akan dilaksanakan oleh manusia secara tidak sadar. Hal inilah menjadi nilai tersembunyi dari wakaf. 

Sementara Raditya berpendapat bahwa berwakaf bisa menciptakan passive income berupa pahala. Contohnya pada pembangunan sekolah, orang yang berwakaf selalu mendapatkan pahala pada setiap anak-anak yang menuntut ilmu disana. Beliau juga mencontohkan pada zaman kerajaan Ottoman, dimana wakaf bisa menjadi tulang punggung perekonomian sosial. Hampir seluruh sektor dimana wakaf disalurkan pada zaman tersebut selalu bersentuhan dengan pemerintah. 

Senada dengan hal tersebut, Badri juga berpendapat bahwa dana pendidikan, khususnya pada perguruan tinggi tidak hanya disupport oleh pemerintah, namun juga dana wakaf/endowment fund. Contohnya Harvard University mendapatkan dana dari John F. Kennedy sebanyak $ 1,7 Triliun, kemudian Oxford, Berkeley, serta Chicago juga mendapat dana dari endowment fund. Pendanaan ini tidak hanya untuk operasional perguruan tinggi, tapi juga untuk research center.  

Raditya juga mengemukakan mengenai permasalahan stok daging, terutama pada saat ramadhan dan lebaran. Wakaf melalui pesantren bisa memberdayakan santri untuk mendirikan pembibitan sapi serta peternakan. Selain itu, perguruan tinggi seperti UNAIR juga perlu berkolaborasi dengan pesantren agar bisa membagi baik dari pendanaan wakaf maupun keilmuan. Hal ini agar stok daging sapi bisa terjamin lewat pemberdayaan peternakan pada pesantren, sehingga permintaan daging pada masyarakat bisa terpenuhi.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/