Pemanfaatan Rumput Laut Selaras dengan Green Economy

image
By deddy Triono On Thursday, August 03 rd, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Indonesia tercatat memiliki potensi cukup besar dalam industri pengolahan rumput laut. Pasalnya, hingga saat ini, dari 50 spesies rumput laut yang tersebar di perairan Nusantara, hanya lima yang baru dimanfaatkan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, Ph.D, Selasa (1/8). Prof. Amin menyampaikan paparannya dalam The 1st International Conference Postgraduate School UNAIR Surabaya (ICPSUAS) bertajuk “Implementation of Climate Change Agreement to Meet Sustainable Development Goals” di Kantor Manajemen Kampus C.

Prof. Amin menyampaikan, negara-negara di Eropa menggunakan teknologi tingkat tinggi untuk mengolah rumput laut menjadi makanan dan kosmetik. Hasilnya, rumput laut tersebut memiliki nilai tambah yang tinggi. Yakni, sampai dengan seratus kali lipat dari harga bahan mentah.

Namun, pengolahan rumput laut belum terolah secara maksimal. Pembagian wilayah pengolahan rumput laut dikluster di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

“Sementara di Indonesia masih mensuplai bahan-bahan mentah dan baru sedikit yang menghasilkan produk (agar-agar). Produsen rumput laut juga tak mampu bergerak secara mandiri menuju industri seperti pangan dan farmasi,” tutur Prof. Amin.

Kelima spesies rumput laut yang baru dimanfaatkan adalah Eucheuma, Gracillaria, Sargassum, Gelidium, dan Hypnea. Kelimanya diolah dengan memanfaatkan metode bottom(bibit disebar di dasar kolam air payau), off-bottom (mengikat bibit dengan tali tampar), floating rack (mengikat bibit dengan tali tampar yang dihubungkan perahu rakit bamboo), dan long line (mengikat bibit dengan tali utama yang dilakukan di perairan yang dalam).

Prof. Amin juga menyampaikan, pengolahan rumput laut agar memiliki nilai tambah yang tinggi selaras dengan prinsip green economy. Pasalnya, rumput laut merupakan sumber daya yang rendah emisi, dapat diperbarui, dan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat.

Profesor Dr. Aini Ideris asal Universitas Putra Malaysia menerangkan tentang keamanan pangan. Prof. Ideris menerangkan tentang konsumsi pangan di pedesaan di Malaysia. Menurutnya, jumlah hewan ayam yang begitu banyak menjadi penentu faktor keamanan pangan di pedesaan.

Namun, unggas di sana juga tak lepas dari penyakit. Salah satunya penyakit Newcastle atau tetelo. Maka, pemerintah setempat berusaha mengendalikan penyakit tetelo dengan memproduksi vaksin secara massal.

Direktur Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Sri Iswati, S.E., M.Si., Ak mengatakan acara yang diselenggarakan selama dua hari akan menjadi tempat para akademisi dari multidisiplin ilmu mempresentasikan hampir 200 makalah ilmiah tentang perubahan iklim.

Perubahan iklim menjadi tema acara dikarenakan urgensi persoalan yang dihadapi warga seluruh dunia. Menurut Prof. Iswati, para akademisi memiliki kewajiban moral untuk urun solusi terkait persoalan lingkungan.

“Kita semua merasakan dampak perubahan iklim. Perubahan-perubahan itu harus direduksi agar lingkungan bisa terjaga dengan baik hingga anak cucu kita. Maka, perubahan iklim itu harus direduksi secara akademik,” tutur Direktur Sekolah Pascasarjana.

Sedangkan, dalam diskusi paralel, ada sebelas tema makalah yang dipresentasikan. Di antaranya adalah “Decent Work and Economic Growth”, “Climate Change and Zero Hunger”, “Zero Poverty”, dan “Good Health and Well-being”.

Prof. Iswati menambahkan, makalah-makalah yang telah dipresentasikan dalam konferensi internasional akan diterbitkan dalam proceeding yang terindeks ICE Thomson Reuters.

Penulis : Defrina Sukma S.