NKRI YANG TERANCAM DISINTEGRASI OLEH SUPARTO WIJOYO

image
By deddy Triono On Wednesday, August 30 th, 2017 · no Comments · In

Indonesia bisa jadi dianggap memiliki defisit rasa kebangsaan, akan tetapi juga harus diingat bahwa kita saat ini mengalami surplus rasa persatuan inilah yang disampaikan oleh Suparto Wijoyo Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga saat menjawab pernyataan Prof. Akhmad Muzaki Sekretaris PWNU Jawa Timur saat berdialog di acara BIOSTALK dengan tema “NKRI YANG TERANCAM DISINTEGRASI”.

Menurut Prof.Akhamad Muzaki bangsa ini dibangun dengan moderatisme bukan saling mengalahkan, kalau sikap saling mengalahkan itu dibiarkan maka kita sedang memasuki fase defisit rasa kebangsaan, maka solusinya adalah revisi terhadap sikap berkebangsaan sebagai metode yang harus dilakukan agar kita bisa menjaga keutuhan negara ini.

Suparto Wijoyo dalam kesempatan ini membuka dengan tanggapan, bahwa 72 Tahun kita bernegara, harusnya memiliki kecanggihan nurani dimana dalam sebuah keluarga jangan beranggapan semua harus berpandangan dan berperilaku yang sama, wajar bila ada anak yang suka pukul-pukul meja, teriak-teriak bahkan hobby corat-coret sekalipun.

Jangan dianggap itu musuh atau lawan karena sikap tersebut hanya akan menambah masalah, akan tetapi itu jadikan itu sebuah energi berkebangsaan dalam mengingatkan sikap kepemimpinan nasional negara kita bahwa ada warga negara ini yang belum tersapa hatinya.

maka, apa yang terjadi adalah merupakan refleksi kepemimpinan nasional.

Ketika ditanya oleh pembawa acara tentang hadirnya PERPU pembubaran ormas apa sudah tepat, Prof Akhmad Muzaki menyatakan bahwa Pancasila harus menjadi azas tunggal dari setiap ORMAS yang ada, maka sikap pemerintah sudah sangat tepat.

Berbeda dengan pernyataan diatas, Suparto Wijoyo mengatakan tidak tepat, karena bila kita mengakui bahwa negara ini adalah negara hukum maka harusnya Pemerintah harus menjadi contoh dan tauladan dalam ketaatan hukum terhadap warganya, berproses sesuai aturan dan memutuskan sesuai ketentuan, jangan sampai hukum yang harusnya hadir sebagai solusi, malah menjadi alat untuk memuaskan nafsu penguasa.

Ketika banyaknya tulisan atau komentar yang menampilkan tentang disintegrasi bangsa ditanyakan, Sekretaris PWNU JATIM menyampaikan bahwa hal tersebut adalah fakta yang harus kita cari solusinya.

Suparto Wijoyo pada kesempatan ini menyampaikan bahwa isu disintegrasi bangsa itu justru marak di lingkup generasi milenial materialis, dimana dalam kesehariannya sibuk dengan dunia maya, berselancar di sosial media dan fokus dengan grup-grup pesan seperti WA, BBM hingga lupa kenyataan dimana orang masih bisa tertawa bersama, bercanda bersama meski berbeda agama, suku dan ras.

diakhir Suparto Wijoyo mengingatkan bahwa sudah saatnya sikap orang tua (dalam hal ini kepemimpinan nasional) yang suka mempolitisir sikap nakal anaknya harus diakhiri karena ini tidak sehat dan akan menghabiskan energi bernegara dengan kebencian dan memulai membangun sistem cinta terhadap negara yang tepat agar ekspresi cinta dari rakyatnya tidak kita artikan perlawanan.