Menyimak Gong Xi Fa Cai

image
By usi_pasca On Monday, February 19 th, 2018 · no Comments · In

Suparto Wijoyo, Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga 

LAMPION-lampion itu bergelantungan memancarkan sinar cahaya yang mengesankan dengan dominasi warna merah cerah nan berbalut kuning harmoni. Suasananya menjadi sangat eksotis meski terkadang ada remang yang menggambarkan rasa gamang yang mistis berseliwer religi. Teguhnya warna merah bukan hanya dalam selubung lampion melainkan alas makan yang tergelar di meja-meja hidangan membuat suasana berselara menyantap suguhan. Cahaya tamaram berkelip menyembulkan panorama yang terasa terang sambil menyimak dongeng-dongen klasik dari para sahabat yang bercengkerama  bahwa dalam tradisi Tionghoa, seutas warna merah menyimbulkan sejuta pengharapan.

Warna yang mendurasikan narasi positif dalam selongsong mimpi tentang keberuntungan, kebahagian dan kemakmuran. Saya mengangguk menerka pemahaman betapa waktu menjadi areal persaksian dalam perjalanan sebuah peradaban dengan sinyal yang multi pandangan. Amplop angpao adalah penyulam berkah penambah kebajikan buat “anak-anak pelanjut warta” bahwa rasa syukur perlu diekspresikan tetapi bukan sogokan. Para paslon dapat memberi “angpao kebijakan” melalui “amplop visi-misi” yang disodorkan untuk membangun Indonesia. Syukurlah cagub Jatim telah “memasang lampion” dan “melambaikan amplop angpao” berupa Program Unggulan Khofifah-Emil melalui Nawa Bhakti Setya dan Program Andalan Gus Ipul-Puti: 1 Visi, 5 Misi, 3 Strategi, 9 Agenda Program Prioritas, dan 33 Program-Janji.

Pekan lalu. Kenapa warna merah berbalut kuning emas sedang memunculkan kesannya dengan untaian cerita dari kolega yang terus bersambung dalam sulangan minum dan makan? Oh … oh … saya pun menyingkapkan pengetahuan yang telah terekam dalam ingatan kolektif berbangsa bahwa hari itu, Jumat, 16 Februari 2018 memang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2569. Hari-hari sebelum maupun  sampai tulisan ini tayang di hadapan pembaca, saya sangat menikmati suasananya sambil menyelami persaudaraan untuk ketemu beragam komunitas.

Warna kombinasi merah dan kuning yang padu-padan tampak tersemat dari ragam kalangan yang sama-sama tidak mengenal hari libur. Mereka terus meningkatkan kualitas hidupnya untuk menjadi abdi negara yang terbaik. Para PNS di banyak kabupaten kota dari kawasan Sumatera, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Jawa apalagi, terpanggil oleh “program kinerja” kedinasannya untuk mengikuti diklat jabatan dengan semangat Imlek yang mengalirkan kegembiraan. Diskusi mengenai Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 tentang Diklat Jabatan pun dirilis bersama dalam nuansa Imlek 2569.  Rintik dan derasnya hujan yang turun di saat Imlek 2569 telah dibaca sebagai “tarian alam” yang menyuarakan takdir Tuhan betapa esok mutlak disongsong dengan gelora bahagia. Santri dan santriwati di Gresik pun “menganggukkan kebanggan pada Indonesia” di kela merayakan Imlek 2569.

Begitulah yang saya simak dari bisik lirih sambil menikmati ragam tawa yang renyai dengan nyemil jajan di setiap acara bersapa dengan teman-teman berbilang ragam suku bangsa, termasuk Cina-Tionghoa. Dan tanggal 16-19 Februari 2018 kemarin benar-benar mengembangkan senyum tulus bagi siapa saja pembaca Kontemplasi yang merayakannya. Imlek tahun 2569 merupakan momentum yang harus dirunut secara bernas. Perayaan Imlek terpotret dijaga penuh kesan. Hening syukurnya  saya yakini tidaklah elok kalau diwarnai harga lombok yang naik dan main beras  impor di samping “juragan narkoba yang bertandang”.  Perhelatan Imlek juga tidaklah sopan apabila disembunyikan persis dengan kaburnya koruptor kakap yang menggondol uang negara triliunan rupiah sebagaimana diwartakan.  Tangkapan OTT juga mewabah turut hadir dalam pentas yang sangat menjengkelkan betapa korupsi masih tak kunjung berhenti. Penyelenggaraan Imlek adalah ritual substansial bagi orang-orang pilihan zaman dan meriaskan wajah yang berpesona  keutuhan  ornamennya. Imlek telah menginformasikan bahwa peradaban saudara-saudara kita dari “kamar bumi”  Tionghoa sudah sedemikian tuanya. Dan dengan santun kuberucap selamat berharkat Chinese New Year.

Dipantaskanlah kemudian agenda turut merasakan gemerlap Imlek. Siapapun orangnya pasti dapat menakar tentang kesungguhan perjalanan hidup bagi suatu peradaban Cina. Siapa saja  berujar sejujurnya bahwa Cina telah memberikan arah sejarahnya yang berwarna meski dominasi “langgamnya tetaplah di garis edar” yang konstan.   Imlek memberikan jeda apa yang dapat dipetik dari rona historis sebuah kisah perjalanan  hidup manusia beserta kebudayaannya. Saling menyapa sambil mempelajari sisi-sisi  kehayatan Cina adalah suatu perintah kenabian. Bahkan belajar secara serius ke daratan Cina telah disabdakan Nabi Agung Muhammad SAW. Dikatakan dengan terang oleh Yang Mulai Muhammad SAW bahwa “carilah ilmu sampai ke Negeri Cina” (seloroh saya, sejatinya juga ke Kedatuan Sriwijaya, risetlah kalau ada yang meragukannya). Apa yang hendak diwartakan oleh Ucap Suci Muhammad SAW itu?

Itu menandakan ketulusan peradaban Islam untuk mengakui dengan gamblang mengenai keadiluhungan setiap kemajuan. Nabi Terpercaya Muhammad SAW tentu tidak  berfirasat sewaktu mendeklarasikan jalan keilmuan ke Cina. Umat saat itu diberi bait-bait sakral betapa pentingnya bejalar ke Negeri Cina. Peradaban besar tentu sudah diteliti dan dikonfirmasi secara cerdas oleh Nabi Muhammad SAW. Kini semua fakta telah terungkap betapa Cina tumbuh begitu mempesona meski ada yang di luar sangka (sampai-sampai pakaian bekasnya saja membanjiri pasaran dan diperebutkan konsumen kita, entah apa yang tengah diimajinasikan pemakainya). Hal ini merupakan tanda kehidupan bahwa Cina telah mewarnai perkembangan jalan panjang manusia. Cina telah menawarkan kemajuan dengan rentang yang memang sudah cukup tua.

Bertumpuk-tumpuk buku berserak di pustaka rumah dan saya sangat menarik terus menerus membacanya. Usia pertahunan yang telah mencapai 2569 bukanlah siklus kosong dan hampa. Cina telah mengawal dan mewarnai sejarah perjalanan budaya bangsa. Apa yang pernah dilakonkan oleh Romawi maupun Persia yang telah disebut dalam Al-Quraan adalah bagian paling sensitif untuk membuka tabir ketersinggungan dan kelengketan jalinan hidup Anak Adam. Munculnya Islam sebagai Kekhalifahan dengan puncak kegemilangan sampai keruntuhan lengket di pundak horizon  Khilafah. Pada sesi kesejarahannya, Turky Otoman adalah pekabaran lain yang harus terus dapat diterka arahnya. Kebangunan Islam menjadi tema penting di abad ini.

Apabila pergaulan kebangsaan antara Romawi, Persia, Cina dan Kekhalifahan Islam muncul sebagai bingkai perpolitikan tentu tidak berarti bahwa peradaban pada dasarnya telah dilokalisir secara sepihak. Lahirnya Negara yang bernama NKRI yang bertarikh 17 Agustus 1945 adalah jawaban tentang perjuangan berjamaah komunitas bangsa dengan mayoritas umat Islam yang sebelumnya telah berada dalam payung Kesultanan (jumlahnya mencapai 73 Kerajaan Islam di Nusantara saat itu).  Jawa, Sunda, Ambon dan semua suku bangsa yang mendiami Nusantara turut andil dalam mengawal perjalanan Republik tercinta. Saudara-saudara kita  Tionghoa telah memiliki investasi “berjangka” dengan segala ketabahannya untuk “memendam rasa berimlek”. Selama era Orde Baru yang tidak membuka kesempatan untuk merayakan Imlek secara terbuka adalah “ruang pertapa” pergumulan dalam bernegara. Suatu bentuk “pembelajaran” yang berupa “saatnya bertahu diri” adanya kultur saudara sebangsa dalam NKRI. Tat kala tikar digelar untuk dirayakan,  jangan ada “dusta yang membersit di hati”. Anggap saja era  yang sebelumnya “menyembunyikan perayaan Imlek” adalah “tahapan untuk mengerti” babakan sejarah yang kini sedang mengalami penawaran baru guna merawat masa depan kolektif kita.

Apa yang harus direnungkan tentang Imlek pastilah  bahwa cuatan perayaannya  secara kelembagaan dinegarakan  berkat ridho  Presiden Gus Dur saat itu. Maka janganlah dipersepsi yang bukan-bukan mengenai apa yang dilakukan Presiden masa itu kecuali menata ulang sejarah yang sedang dikavling-kavling oleh otoritas negara untuk “dimusnahkan”. Di tengah kondisi “memuliakan yang singgah”, justru kian ramai pula orang “mengobok persaudaraan” bahkan termasuk saat ini bagaimana “orang gila dapat berkomando menghabisi ulama”. Mari mengendapkan jiwa dengan tetap menyadari bahwa  suatu budaya yang ideologis dan teologis tidaklah dapat diamputasi oleh siapapun.  

Maka biarlah budaya itu semarak dalam payung yang sama, Republik Indonesia melalui ikrar “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Kita semua yang berkulit warna-warni saatnya duduk dan bercengkerama bersama dalam Taman Surga Indonesia. Perayaan Imlek tahun ini harus menjadi saat bagi “yang di sana dan yang di sini” menautkan cintanya kepada NKRI, bukan ambisi mengeruk kekayaan negeri, atau memboyong triliunan rupiah ke luar negeri tanpa mampu dideteksi. Kita rekatkan persaudaraan, bukan retakkan persatuan. Teruslah  untuk saling bergumul dalam pergaulan besar kebangsaan tanpa mencederai dan tiada henti mengembangkan rasa tahu diri, ya … isok ngrumangsani hidup di tanah Ibu Pertiwi. Kalau sudah amat menyadari dan meresapi bahwa  Republik ini memberi ruang penghormatan tinggi: kita bersaksi biarlah lampion-lampion merah menyala tanpa perlu ditafisir bahwa itu sewarna dengan partai atau baju kebesaran paslon cagub tertentu.  Warna merah itu biarlah menghiasi jalan sejarah negara untuk sebarisan formasi berbangsa agar kita bisa saling berucap mesrah: Gong Xi Fa Cai. 

%d bloggers like this: