Rekomendasikan Pengelolaan Zakat di Perguruan Tinggi, Nisa Jadi Wisudawan Terbaik Pascasarjana

image
By usi_pasca On Monday, December 03 rd, 2018 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Bersusah-sudah dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitulah perjalanan Khoirun Nisak, S.E., M.SEI., dalam menjalani studi S2 di Universitas Airlangga. Perbedaan budaya antara Malang dan Surabaya mengharuskan dirinya untuk ekstra keras beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun, mahasiswa kelahiran Trenggalek, 22 Agustus 1992, tersebut berhasil mengakhiri studinya dengan predikat wisudawan terbaik Sekolah Pascasarjana dengan IPK 3,8.

Tentang tugas akhirnya, mahasiswa yang akrab disapa Nisa tersebut mengangkat judul Model Pemberdayaan Zakat di Perguruan Tinggi: Studi Kasus LAZ el-Zawa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dalam tesisnya tersebut, Nisa membahas mengenai pengelolaan zakat di perguruan tinggi. Menurutnya, topik tersebut merupakan hal yang baru dan jarang dibahas oleh mahasiswa yang lain.

“Saya ingin tesis saya tidak hanya berakhir berdebu di rak perpustakaan, tapi bisa menjadi rekomendasi dan manfaat bagi lembaga yang bersangkutan daam pengelolaan zakat dan universitas lain yang ingin membuat lembaga zakat yang serupa,” tambahnya.

Nisa menuturkan, dalam pengelolaan zakat di perguruan tinggi, uang zakat berasal dari karyawan kampus. Kemudian, dari hasil pengumpulan dana tersebut, porsi dana zakat lebih besar disalurkan kepada civitas akademika yang kurang mampu.

Nisa menceritakan, saat kuliah di samping sibuk dengan akademiknya, dirinya juga disibukkan dengan menjadi supervisor Beastudi Etos Surabaya. Nisa juga termasuk pegiat #IndonesiaTanpaJIL chapter Surabaya, sebuah komunitas yang fokus mengkaji pemikiran Islam. Dalam event tertentu, Nisa juga mengikuti beberapa international conference di bidang ekonomi Islam serta menjadi salah satu penerima manfaat Beasiswa Kepemimpinan dari Dompet Dhuafa.

“Awalnya ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ekspetasi di Surabaya dan membuat kesulitan beradaptasi, tapi saya berusaha untuk terus menyesuaikan diri,” tambahnya.

Nisa mengaku harus banyak menyesuaikan diri dengan budaya Surabaya yang berbeda dengan budaya di Malang ketika menjalani studi S1. Di samping itu, dia juga harus seimbang membagi waktu antara kuliah dan kerja.

“Tapi, memang begitulah seninya belajar, kata Imam Syafi’i. Kalau kau tak tahan menanggung lelahnya, maka kau harus tahan menanggung pahitnya kebodohan,” ucapnya.

Saat ini Nisa masih menjadi supervisor Beastudi Etos Surabaya dan menjadi asisten peneliti untuk beberapa riset. Ke depan, Nisa berencana menjadi pengajar di kampus.

“Mahasiswa S2 seharusnya mindset-nya sudah beda dengan mahasiswa S1. Porsi untuk penelitian, diskusi ilmiah, baca buku, dan menulis harus lebih besar. Jangan menjadi magister karbitan yang kapasitas keilmuannya belum mumpuni ketika lulus,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Sumber: news.unair.ac.id

%d bloggers like this: