Alumni S-2 Magister Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga Surabaya Menulis Tesis saat Tangani Teroris Poso

image
By Pasca On Thursday, December 07 th, 2017 · no Comments · In

Saat itu pertengahan 2016. Tugas negara datang saat Girinda Wardana hendak menyelesaikan tesis di Magister Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga, Surabaya. Sebagai abdi negara, Girindra tak bisa menolak. Komandan kompi (Danki) Batalyon Kompi I Satbrimob Polda Jatim itu pun berangkat ke Poso, Sulawesi Tengah. Tugasnya adalah menumpas aksi terorisme.

Ingat dengan kewajiban menyelesaikan tesis, Danki berpangkat iptu tersebut tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Tugasnya selama memberantas teroris dalam Operasi Tinombala itu pun menjadi bahan tesis. “Waktu di sana (Poso), pilih tema dan susun kerangka dulu,” terang komandan yang masih berusia 24 tahun itu.

Pengalamannya menggunakan sistem kejar dan sekat dalam menangkap teroris dituangkan dalam bahasa tesis. Sebelumnya, sistem tersebut belum begitu dioptimalkan. Menurut pria yang baru saja menikah dengan pujaan hatinya, drg Nilna Nur Putri, September lalu itu, sistem tersebut ternyata efektif dalam menghadapi para teroris Poso. “Dengan penjagaan ketat, teroris yang berada di gunung terpaksa keluar dari persembunyiaan. Saat itulah mereka berhasil diamankan.” beber lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian itu.

Enam bulan bertugas di Poso, Girindra pun kembali ke Polda Jatim. Bahan tesis kemudian dikembangkan. Hingga akhirnya, dia berhasil mempertahankannya di depan penguji. Salah satu pengujinya adalah Irjen (purnawirawan) Dewa Astika, mantan Kapolda Bali.

Dia berhasil melalui proses terakhir itu dengan mudah. Girindra mampu meraih nilai A atau sangat memuaskan. Bulan lalu dia berhak menyandang gelar master science. Pencapaian yang tidak mudah. Anak pertama di antara tiga bersaudara itu mengaku harus pintar-pintar membagi waktu. Antara tugas dan kuliahnya. Saat itu, sebagaai anggota Brimob yang juga ditempatkan di gegana, dia harus rela meninggalkan kuliah dan memilih bertugas.

Untung saja, sebagai satu – satunya mahasiswa dari brimob yang bertugas di gegana, dia mendapat toleransi tinggi dari dosennya. “Buktinya juga ada, biasanya (berita penjinakan bom) selalu ada dikoran,” ucapnya, lantas tertawa. Perjuangannya meraih gelas master memang berat. Apalagi di usianya yang sangat muda, 24 tahun.

Pria yang tidak pernah masuk tama kanak-kanak itu mengaku membutuhkan kuliah karena ingin menambah wawasan sehingga membantunya dilapangan. “Selama ini, anggota Brimob dikenal hanya tentang teknis. Ini yang ingin saya seimbangkan.” tuturnya.

Benar saja, begitu berada di dunia perkuliahan, dia memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi sesuatu. Apalagi, keberhasilan memiliki gelar tambahan itu mendukungnya dalam karir kepolisian. Padahal sebenarnya, berada di dunia kepolisian bukanlah cita – citanya saat kecil. Meski dia lahir dari seorang ayah bintara polisi. Saat itu di bangku SMA Negeri Solo 3, baru dia mulai tertarik masuk ke akademi kepolisian.

Setelah menyisihkan ribuan pelamat, pria kelahiran 2 Maret 1993 itu pun berhasil masuk Akpol angkatan 2013. Saat seleksi masuk melalui Polda Jawa Tengah, Girindra pernah menduduki peringkat pertama. “Nggak menyangka, padahal selama ini saya sering diragukan.” tutur pria yang memiliki tinggi 180 sentimeter tersebut.

Sejak itulah, Girindra semakin mantap dengan jalan karir yang ditempuh. Setiap proses seleksi, pelatihan, dan pendidikan dijalani dengan sepenuh hati.

%d bloggers like this: